THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES �

Minggu, 10 Januari 2010

doaku

Terlalu banyak hal yang kusesali karena berpisah denganmu. Aku terasa akan ditinggal kan dan dimusuhi oleh seluruh isi dunia ini.. apakah kamu tau itu ? Ku coba bersabar dan setia padamu karena kutau kau tak pernah melupakanku yang telah menghancurkan segala jerih payahmu untuk hidupmu. Penyesalaan ku tak kunjung berhenti. setiap kali kupandangi gambar mu, aku selalu memaki diriku dalam hati karena kebodohan ku aku kehilangan orang yang menyayangiku apa adanya. Sungguh kalau memang ada mesin yang bisa memutar balikan waktu, mungkin sudah lama ku sisihkan segala uangku untuk membeli nya. Sekarang aku hanya bisa berharap untuk tetap maju dan semangat menjalani semua tanpa mu. Tapi ingat lah.. Aku selalu berdoa agar kelak, aku menemukan jalanku untuk bersama mu lagi dan bila saat itu tiba.. Aku tak mau lagi menjadi orang bodoh yang melepasmu hanya karena ego ku sesaat. Aku Menyayangi Mu Apapun Yang Terjadi.. Kumohon, Ingat lah Itu.. :)

gadis tak bernama

KALAU kau pernah mengunjungi danau di seberang masjid kampus berkubah putih itu, pasti kau mengenalnya. Tidak hanya pagi hari saat binar fajar melumer, tidak hanya siang ketika hari merangkak ke peraduan, tidak senja, saat hari berangkat menua. Kau akan mendapatinya di setiap larik kehidupan. Saat malam menanti purnama yang anggun pun kau pasti dapat menemui sosoknya.
Ketika kau bertemu orang dan menanyakan tentangnya, pasti mereka dengan sigap mengangguk mematuk. Semua telah sempat menemuinya di pagi yang samar hingga malam yang lebam. Dari kejauhan, meski samar, dia begitu nampak jelas dengan gaun merah maron di padu bandana warna daun kering. Di lengan kiri ada jam tangan perak kecil yang tak henti berdentang dan di kanan gelang manikmanik perak menyerupai mutiara. Kakinya begitu sempurna meski tanpa alas, menyatu dengan tanah tepi danau yang lembab.
***
Suatu sore yang dingin karena gerimis tak kunjung mengering, aku mampir ke tepi danau itu. Meski tak disengaja karena tumpanganku macet, kubiarkan tubuhku jatuh di rerumputan yang basah sejenak melepas penat. Mata kupejam menikmati derai hujan yang jatuh satusatu menikam poripori di wajahku. Dingin menyelinap masuk hingga belulang, tapi aku tak hirau dan membiarkannya membelai tubuhku yang ekstase. Satu tarikan nafas panjang untuk mengakhiri tamasya sore itu. Mata kubuka perlahan dan aku terhentak kaget.
Sebuah sosok tak asing berdiri tepat di atasku, sepersekian milimeter dari kepalaku. Dengan tergesa aku mengangkat tubuhku lantas berdiri bertumpu pada kedua kaki yang sedikit goyah. Dia tidak bergeming. Tetap pada posisinya berdiri tegak bahkan tak menghiraukan sikapku yang mulai kikuk. Sedikit terbata aku mencairkan suasana sore itu, bertanya kenapa dia tibatiba berada di atas kepalaku. Dia tetap kukuh tak mengernyit sedikit pun, apalagi berbalik menatapku yang sedari tadi berada di samping pundaknya.
Apakah dia bisu ? Aku mulai membathin tak karuan. Terlalu banyak kata yang kumuntahkan tapi tak sekalipun dia menggerakkan bibirnya. Sesekali aku meraih pundaknya dan berbicara padanya, dia mematung. Seakan kehadiranku tak berarti apaapa baginya, seperti tak ada sesuatu yang dapat mengusiknya.
Aku semakin bingung dengan sikap diamnya tapi aku tak urung, tetap saja aku bercerita di sampingnya bahkan bibirku kudekatkan ke telinganya agar dia mendengarkan. Meski tak bereaksi sedikitpun, mungkin dia menyimak semua pertanyaan dan ceritaku. Bahkan aku semakin bersemangat bercerita kepadanya, bercerita tentang hujan yang mencuri kelopak senja di tepian pantai, gemintang yang malu bertemu purnama yang anggun, atau tentang kisahkisah kolosal yang di reproduksi menjadi sinetron murahan. Dia masih berdiri.
Jarumjarum mulai menusuki telapak kakiku yang sedari tadi menahan beban berdiri. Sesekali aku jongkok, kemudian duduk di rerumputan dan berdiri lagi untuk melanjutkan cerita. Walau tak di bayar aku tetap saja bercerita, tidak seperti film layar lebar yang mesti menyelipkan nominal uang untuk menontonnya di ruang gelap bernama bioskop. Dadanya terangkat naik dan turun seiring hembusan nafas yang terdengar bergemuruh. Aku melemparkan senyum lega, akhirnya dia bereaksi juga setelah lebih dari sejam mendengar celotehku.
Dia bergerak membelakangiku dan beranjak menjauh menuju titian yang menghubungkan tempat kami berdiri dengan tempat yang serupa pulau kecil. Langkahnya terhenti tepat di atas titian yang terbuat dari balok kayu yang disusun berbaris memanjang. Tangannya memegang balok pembatas yang berada di depannya menghadap ke timur. Dia tak berbalik kepadaku, akupun beranjak pergi setelah berteriak berpamitan mengucap selamat tinggal.
***
Sejauh ini belum ada perubahan yang berarti meski setiap hari aku menyempatkan diri menjenguknya di tepian danau. Kadang sesaat sebelum aku mulai bercerita kusodorkan sepotong roti rasa coklat dengan parutan keju di atasnya, namun dia tak pernah menggerakkan tangannya meraih roti atau botol minuman dingin meski hari begitu gersang.
Hingga suatu waktu petir memecah angkasa dan hujan tumpahruah ke bumi, kami berlarian menuju gasebo yang berada tidak jauh dari titian untuk berlindung dari guyuran hujan. Karena hari sudah sore suasana danau mulai lengang dan di gasebo itu cuma kami berdua. Dingin merebak namun suasana tak hangat juga, tak ada perbicaraan. Hanya diam. Tubuh kami gigil berselimut angin yang menerpa pepohonan di pinggiran danau yang kian beriak di jatuhi titiktitik hujan.
Hujan menderu dan hari semakin gelap, terdengar suara adzan menggema dari corong masjid dari sebelah danau. Seharusnya aku sudah berada di rumah di waktu seperti ini tapi hujan kian deras. Tibatiba dia menggamit tanganku sedikit menarik mendekat ke tubuhnya. Barangkali dia kedinginan, akupun menempelkan pundakku ke pundaknya tapi dia menarik tubuhnya mundur.
“Ada roti, aku lapar…” matanya sayu menatapku.
Senyumku merekah seketika dan dengan sigap kuselipkan tanganku ke dalam ransel mengambil sepotong roti lalu kusodorkan kepadanya. Senang sekali rasanya setelah lebih sebulan datang dan bercerita padanya, akhirnya dia mengucapkan kalimat pertama tanpa kuduga sebelumnya. Ternyata dia tidak bisu. Irama suaranya begitu lembut mengalun dari bibirnya yang pucat. Hujan seakan berhenti dan aku berlarian mengitari gasebo sambil berteriak riang seperti orang kerasukan setan penunggu danau.
Mataku awas mengamati mulutnya yang menguyah begitu lambat, bibirnya gemetar. Aku tak berkata apapun menunggunya menghabiskan roti. Setelah aku yakin roti dalam mulutnya telah habis ditelannya lalu kuberi sebotol air mineral, dia meraihnya kemudian menenggak pun sangat pelan.
Merasa kalau dia sudah menyadari keberadaanku, akupun mulai bertanya tentang dirinya. Dia enggan membuka rahangnya, mungkin masih ada sisa roti di mulutnya. Lima menit kemudian aku memulai bertanya lagi, kali ini dengan pertanyaan yang lebih ringan. Takut dia tak mengerti bahasaku, dia tak bergeming sedikitpun. Aku tidak putus asa tetap kujejali dia dengan pertanyaan yang mungkin memekakkan telinganya, hingga dia berbalik pelan dan melemparkan senyum pasi. Kubalas senyumnya dan menatap matanya, memperhatikan setiap guratan di sudut wajahnya. Kudapati risau disana, ada bayang sendu, dan sejuta tanya yang menanti jawab. Tapi aku tak tahu apa, sulit menafsirkan apa yang telah menimpa hingga membuatnya seperti ini.
Hujan reda. Aku bergegas pulang setelah mengucap kata berpisah padanya.
***
Aku begitu penasaran dengannya hingga kusiapkan selalu waktu mengunjunginya selepas kuliah. Ada pertanyaan besar yang harus terjawab dan ini terus mengusikku. Siapa dia sebenarnya. Rasa penasaranku semakin membuncah setelah dia mengucapkan kalimat pertamanya lalu dia tersenyum, kalau bisa lebih sabar pasti tidak lama lagi aku bakalan tahu siapa dia.
Aku terus saja mengunjunginya, bercerita, tersenyum, membawakannya roti dan kadang nasi bungkus untuk mengganjal perutnya yang lapar.
Ketika sampai di rumah aku menyetel televisi dan menonton program favoritku, berita malam. Di layar kaca begitu marak pemberitaan tentang pilkada dan caleg yang saling adu kemampuan untuk mengkampanyekan dirinya demi meraih suara terbanyak nanti. Tibatiba pada segmen peristiwa aktual seorang reporter yang sangat akrab bagi pemirsa program berita malam menyampaikan sebuah berita dengan latar belakang sebuah danau. Kuperbaiki posisi dudukku dan menambah volume suara televisi lalu menyimak berita tersebut.
Secepat kilat aku menuju danau mengendarai sepeda motor bututku hendak memastikan berita di televisi. Sesampainya disana, yang kudapati hanyalah sunyi lalu retina mataku menangkap sebuah petanda berwarna kuning di sekitar titian, garis polisi.
Ternyata berita itu benar. Dia tenggelam. Aku berteriak sejadijadinya membelah malam, timbul penyesalan yang dalam kenapa aku begitu lalainya. Tak sengaja aku lupa berkunjung ke danau sore tadi, mungkin dia lapar, sedih, butuh teman, hingga tubuhnya retas dan terjatuh ke air.
Padahal, masih ada kisah yang belum sempat aku ceritakan padanya, gadis tak bernama.

mimpi yg nyata

Mama, cuma dia yang aku miliki dalam hidup ini, aku tau mama sayang banget sama aku,,, mama suka manggilk aku dengan sebutan cinta, mungkin karena sama aku, padahal namaku yang sebenarnya LInca. so temen-temen dan orang sekitar aku pun ikut memanggilku cintaaaa!!!! Yang ku tahu mama suka warna merah,, mama suka make' shaal dan selendang, emm seminggu lagi ulangtahun mama. walaupun kami cuma hidup berdua tapi aku mau dech bikin pestabuat mama. Hari ini aku berangkat ke sekolah dijemput tenku. aku pelajar kelas 1 SMA. waktu aku mau berangkat ku lihat mama mendadah dari teras rumah,''hati-hati sayang'' nanti belikan mama obat yach''''iya ma" Dalam perjalanan,'' mama kamu itu baik banget sich ramah lagi'' kta Noura'' iya aku bangga banget sama dia, dia satu-satunya keluargaku tapi dia mampu membiayai aku walaupun dengan hidup yang pas-pasan. Tak terasa hari terus belalu tingal 2 hari lagi mama ulatah, aduh aku mau kasih apa yach..???? emmmm mama kan suka selendang, gimana kalau besok aku belikan mama selendang merah, mama pasti seneng deh, Dalam tidur aku bermimpi melihat bayangan-bayangan yang tampak aneh, mereka mendekatiku, aku sebenarnya takut, bayangan putih itu tampak samar, tapi perlahan mereka lenyap ditelan gepulan asap tapi aneh kenapa tiba-tiba menjadi gelap, aku sudah tidak bisa melihat apa-apa lagi, aku takut, takut takuuuuuuuuuuttttttttt, teriakku sampai terbangun dari tidurku,''kenapa sayang ''''ga papa ma , aku cuma mimpi buruk,''''makanya kalau tidur jangan lupa baca doa''''iyach mam Linca janji dech'' kata ku sambil senyum''''kamu juga hari libur gini masih aja molor, tapi memang kamu mimpi apa sayang?''aku diam,, tiba-tiba air mataku menetes,''kenapa sayang,kamu ko' nangis,?''''aku takut maa, aku ga mau pisah sama mama, entah kenapa aku sedih aku sendiri ga tau''''ya udah kamu cerita lain kali aja,''''sekarang kamu mandi yach kata mama sambil memeluk aku.''''iya ma'' Sehabis mandi aku mau jalan cari kado buat mama,''ma aku mau pergi dulu yach''''iya''............ ''emmm ''''dah ma''''sayang''''ya ma''''hati-hat ihari mendung''. aku senyum, aneh pandangan mama berbeda, dia tampak khawatir banget. sesampai di toko, ternyata selendang merah kesukaan mama sadah habis terpaksa pake selendang putih, tapi ga papa lah, mama pasti seneng walaupun warnanya bukan merah. waktu aku dijalan mau pulangDoooooooooooooaaaaaaaarrrrrrrrr, dentuman petir, aku berlari tiba-tiba aku ditabrak mobil karena mataku tak bisa melihat lagi, selendang putih yang ku bawa untuk mama sudah berubah menjadi mera, aku hanya memandangnya di detik terakhir menghembuskan nafasku.entah apa yang terjadi pada mama

kau khiyanati cintaku

Ibu uuuuuu……., jangan tinggalkan aku bu, ibu bangun bu…, bangun bu…
Sudah lah nak..ikhlaskan kepergian ibumu, kamu harus tabah, biar ibumu pergi dengan tenang.., Haji Somad menenangkanku.
Semua sudah diatur yang di atas, semua yang bernyawa pasti mati, kita semua akan mati, lanjut pa Haji menasehatiku.
Ya..ya pa Haji…
***
Sambil duduk termenung di teras samping aku mendengarkan radio, dari sebuah pemancar FM radio swasta, sudah berapa lagu mengalun, namun tidak membuatku terhibur, walaupun penyiarnya selalu mengatakan “ semoga para pendengar terhibur ”. Malam semakin larut, kian menampakkan keangkerannya, suara anjing mengonggong sahut menyahut, menambah semakin mencekam, bulan purnama sedang sembunyi di balik awan gelap, sepertinya malam ini akan hujan, malam terus menampakkan keangkuhan, namun banyak menyimpan misteri. Suara anjing itu semakin tidak terdengar, hanya suara gesekan ranting, melantunkan melodi kesedihan, seakan ikut merasakan keperihan hatiku, namun ini justru menambah laranya hati, terasa mencabik cabik sampai ke kulitku. Bunyi detak jam dinding di ruang tengah, serasa tak seirama lagi, namun perjalan detik menuju menit terus menuju jam, seperti mengisyaratkan tentang kehidupan ini yang sangat pendek, aku terus larut dalam lamunan yang tak bertepi, hanyut tanpa batas, aku masih tak percaya akan kepergian ibuku yang sangat menyayangiku.
Ibu meninggal dipanggkuan ku, setelah berbulan bulan menderita sakit, dokter bilang, sakit ibu karena tekanan batin yang mendalam. Sebelum sakit, ibu lebih banyak diam, makannya juga sudah tidak teratur lagi, bahkan kadang satu hari ibu tidak makan dan tidak ngomong, hanya mengurung diri di kamarnya.
Perasaanku berbeda dengan saat ayahku meningal dulu, aku masih berumur 4 tahun, aku tidak mengerti apa yang terjadi, pada saat ayahku meninggal, aku justru asyik bermain mobil mobilan, yang dibelikan ayahku seminggu sebelum dia meninggal, ibu selalu menceritakan tentang ayahku, yang sangat sayang kepadaku, karena aku anak laki laki semata wayang, yang di harapankan mengganti dia, dalam mengelola bisnisnya. Namun ayahku begitu cepat meninggalkan aku, ayahku meninggal karena kanker. Sepeningal ayahku, ibuku lah yang melanjukan bisnis ayahku.
Aku masih beruntung, walau aku anak yatim, namun aku masih bisa sekolah dengan baik,berapa banyak anak yang tidak bisa sekolah, karena ketiadaan biaya. Sedangkan aku walau ditinggal ayahku, aku berlimpah harta, karena harta peninggalan ayahku sangat banyak, dan ibuku sangat piawi dalam berbisnis, melanjutkan usaha ayahku.
Walau ibu sibuk dengan bisnis peninggalan ayahku, namun tidak mengurangi kasih sayangnya kepadaku. Setiap hari ibu melayaniku, dari memandikanku, menyuapi aku makan, dan antar jemput aku ke sekolah, sejak aku di Taman Kanak kanak hingga sampai Sekolah Dasar. Dia sempatkan waktu sengangnya untuk bermain dengan ku, kadang aku diajak jalan jalan ke tempat rekreasi,ke pantai, ke taman ria, kadang ibu juga mengajak aku ke museum. Setiap aku mau tidur, ibu selalu bercerita tentang pahlawan Indonesia, bagaimana kehebatan para pejuang kita melawan penjajah, seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, RA. Kartini dll. Lain waktu, ibu menceritakan kehebatan para pejuang Islam, dalam mendakwahkan Islam, diantaranya para sahabat Nabi saw, seperti Abu Bakar ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib. Ibu juga menceritakan kehidupan Rasulullah, yang sejak dalam kandungan sudah ditingalkan ayahnya, umur enam tahun ditinggalkan ibunya, lalu dipelihara kakeknya Abdul Muthalib, namun tidak lama cuma dua tahun saja, kakeknya meninggal, kemudian dipelihara oleh pamannya Abu Thalib sampai beliau menjadi Rasul.
***
Ton..toni, bangun nak, ayu bangun, nanti terlambat ke sekolah, ibu membangunkan aku
Aku masih ngantuk bu, jawabku tanpa beranjak,
hari ini, hari Senin ada pelajaran sejarah...lho.., kamu suka kan...., bujuk ibuku

Aku sekarang sudah kelas dua Sekolah Dasar, di kelas dua ada pelajaran sejarah Indonesia, aku memang sangat menyukai pelajaran sejarah, aku mengagumi keperkasaan para pejuang dalam menumpas para penjajah. Aku bercita cita ingin menjadi guru sejarah.
Ulang tahunku bulan kemaren ibu memberikanku hadiah buku sejarah Indonesia, aku gembira sekali, setiap hari aku baca, walau sudah selesai aku, baca lagi, sudah tiga kali aku mengulanginya, aku sangat hafal cerita para pejuang, terutama tentang Budi Utomo, pahlawan pendidikan dari Jawa Timur.
Pada hari Senin kemaren pada saat pelajaran sejarah, pak Guru menceritakan tentang sejarah Panglima Sudirman, bagaimana beliau memimpin perjuangan, walau dalam keadaan sakit, tidak mengurangi semangat juangnya.
***
Hari ini ibu tidak mengajak aku jalan jalan, padahal hari ini hari libur, namun aku juga agak malas keluar rumah, maunya diam di rumah saja, mungkin juga ibu sudah menganggap aku sudah besar, memang sejak aku SMA ibu sudah jarang mengajak aku jalan jalan, apalagi sejak kejadian empat bulan yang yang lalu, dan itu terakhir ibu mengajak aku jalan jalan rekreasi, pada waktu itu kami ke pantai aku sedang jalan jalan di pantai ibu duduk kafe sedang minum teh, di kafe itu ibu bertemu dengan temannya waktu SMP dulu, setelah asyik bercerita kenangan masa lalu mereka, aku datang mendekat ibuku, teman ibuku itu agak kaget melihatku, lama dia terdiam, setengah berbisik aku dengar teman ibuku bertanya kepada ibuku, “suamimu ya, muda sekali ya..”, ibu ku tersenyum dan sembari menjelaskan bahwa aku anaknya.
Ibu sedang asyik membaca buku, seratus tokoh berpengaruh sepanjang jaman. Aku lagi nonton TV acara kesayanganku tentang flora dan fauna. Cuaca agak mendung, seperti mau hujan.
Assalamu alaikum… , suara orang memberi salam di depan rumah, memecahkan keheningan pagi.
Wa alaikum salam..jawab ibuku pelan.
Toni... tolong lihat siapa yang datang..., pinta ibuku.
Ya..bu
Assalamu alaikum.. suara orang di luar mengulang salamnya,
Wa alaikum salam.., jawabku,
Aku membuka pintu, ku lihat seorang pemuda kurus, dengan pakaian yang lusuh, badannya kotor, kelihatannya pemuda ini tidak terawat, agak lama kami saling tatap, pemuda itu tersenyum agak dipaksakan, akupun membalas senyumnya.
Siapa yang datang Ton…, tanya ibuku dari dalam …
Aku tidak segera menjawab pertanyaan ibuku, karena mataku masih menelusuri seluruh tubuh pemuda itu, dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya, aku jadi iba melihatnya. Pemuda itu jadi salah tingkah, dia pun ikut ikutan melihat tubuhnya sendiri, sekali sekali dia kembali menatapku. Agak lama kami saling tatap lagi, dan diam....
Maaf mas... ada yang salah kah dengan saya..., pertanyaannya mengagetkan ku
Aahh...enggak,...., sepertinya saya pernah lihat saudara, jawabku sekenanya.
Dia tersenyum..., tanpa ada kata yang terucap.
Saudara mencari siapa...?
Sorry mas..., pemuda itu mulai bicara, tapi langsung ku potong
Ini masih pagi, belum sore, jawabku sambil tersenyum
Maksud saya mohon maaf..., sebenarnya saya kesini mau cari pekerjaan, mungkin ada yang bisa saya kerjakan, apa saja mas..., yang penting saya bisa makan..., kata pemuda itu melanjutkan omongannya.
Aduuh...., (sebenarnya tidak ada yang sakit sih, ini hanya ucap sepontan, yang aku sendiri tidak tahu kenapa) kerja apa ya..., jawabku
Apa saja mas...
Toni ...siapa yang datang itu..., ibuku bertanya lagi. Aku berjalan agak tergesa menuju kamar ibu,yang sedari tadi membaca buku.
Anu ...bu...
Anu apa Ton....
Itu di luar ada seorang pemuda, yang minta pekerjaan, katanya sih kerja apa saja..
Ahhh...., ibuku mengangkat tangannya sambil mengeliat, mungkin sangat capek, karena terlalu lama duduk membaca buku. Ibu kalo sudah asyik membaca buku sudah lupa segalanya, kalo tidak selesai tidak berhenti.
Ibuku berdiri dan berjalan agak pelan menuju ruang tamu, kemudian lalu ke teras menemui pemuda itu.
Ada yang bisa saya bantu mas ...?,tanya ibuku
Don..., lengkapnya Ramadlan bu..., jawabnya
Saya mohon ibu bisa memberi saya pekerjaan, kerja apa saja bu..., yang penting saya bisa menyambung hidup..., saya sudah malu minta minta..., saya ingin bekerja. Lanjut pemuda itu dengan suara agak memelas.
Kamu bisa kerja apa...?
Apa saja bu...membersihkan halaman... atau merawat tanaman ... saya mau bu...., masalah gaji terserah ibu, yang penting saya bisa makan..., jawab pemuda itu berharap.
Ibu ku masuk ke ruang tamu dan menghampiriku, Ton..., bagaimana tangapanmu tentang pemuda itu..., tanya ibuku kepada ku
Masalah apanya bu...?
Yah...permintaan pemuda tersebut... jawab ibuku
Terserah ibu saja...
Jangan begitu...perasaanmu bagaimana, apakah dia orang baik..., lanjut ibuku
Menurut Toni sih terima saja..., biar dia bisa bantu bersih bersih atau memotong rumput yang di halaman...dan saya juga ada teman... jawabku tanpa pikir panjang.

Ibu kembali keluar menemui pemuda itu, aku kembali nonton tv, saya lihat ibu masih berbincang bincang dengan pemuda tersebut. Acara floura dan fauna sudah selesai, ku matikan tv, lalu aku keluar ingin tahu bagai mana keputusan ibu, tentang permintaan pemuda tersebut.
Kamu sudah makan mas Ramadlan....? tanya ibu ku kepada pemuda itu, ternyata pemuda itu bernama Ramadlan, mas Ramadlan keliatan malu malu, tapi dari raut mukanya aku bisa menangkap kalau dia belum makan.
Belum..bu.., jawab nya
Kalau begitu masuk dulu...., ucap ibuku, beranjak menuju ke belakang, tidak berapa lama ibu sudah membawakan satu piring nasi goreng, sisa sarapan kami pagi tadi, dengan segelas air teh. Ibu kalau bikin nasi goreng enak sekali. Aku sangat suka, tapi ibu bikinnya hanya pada hari libur, hari lainnya kami lebih banyak makan di luar, sekalian ibu mengantar aku ke sekolah dan ibu berangkat ke kantor, kebetulan sekolah ku satu arah dengan kantor ibu ku, ibu mengantar aku dulu, lalu lanjut ke kantornya.
Silahkan dimakan..., mumpung masih hangat...ucap ibuku.
Saya ke belakang dulu..., lanjut ibu, sambil berlalu menuju ke belakang, tinggal aku dengan pemuda Ramadlan itu yang masih duduk di ruang tamu.
Makasih bu..., jawab Ramadlan sambil meraih piring nasi, kelihatanya mas Ramadlan ini benar benar lapar, dia lahap sekali, dia makan seperti tergesa gesa. Aku tetap memperhatikan mas Ramadlan makan, mas Ramadlan mungkin baru sadar kalo dia aku perhatikan, dia tersenyum kepadaku, mengurangi volume makannya, sekarang dia makan agak perlahan.
***
Mas Ramadlan sedang asyik menyapu di halaman rumah membersihkan daun daun kering yang berjatuhan, sudah satu bulan dia bekerja di rumahku, memang sejak dia ada dia rumah kami, rumah kami jadi rame, mas Ramadlan enak diajak ngobrol, dia juga sopan, tutur katanya lembut, tidak pernah membantah kalo disuruh, pekerjaannya juga sangat rapi dan cekatan. Pagi ini cerah sekali, secerah hatiku, karena hari ini ibu mengajak aku ke pantai, ini sudah lama sekali aku tunggu, ibu lagi di dapur menyiapkan bekal untuk dibawa ke pantai, aku menyiapkan yang lainnya, sedangkan mas Ramadlan masih asyik menyapu, tapi sekarang sudah pindah ke halaman samping, tinggal sedikit lagi akan selesai.
Toni ..kamu sudah siap...?, tanya ibuku dari dapur
Iya bu..., jawabku
Suruh mas Ramadlan berhenti dulu, agar dia siap siap berangkat juga, nanti sore baru di lanjutkan..., perintah ibuku, akupun keluar ingin menyampaikan titah ibuku, sesampainya di halaman samping, ternyata mas Ramadlan sedang duduk di bawah pohon ketapang.
Sudah selesai mas..., tanyaku
Iya den..., jawabnya (mas Ramadlan selalu memanggil ku dengan sebutan den, kependekan dari raden)
Ahh..., mas Don jangan panggil aku begitu lagi... dong.., panggil saja dengan namaku... aku jadi enggak enak, dan juga itu tidak pantas buat ku...., protesku, padahal sudah beberapa kali aku mengingatkan mas Ramadlan agar jangan memanggil ku dengan sebutan den,

Iya den..., eeh mas Ton, katanya lagi
Ibu bilang siap siap untuk berangkat..., kalo belum selesai dilanjutkan sore nanti aja
Iya...mas Ton...
***

Sepertinya malam ini, tidak seperti malam kemaren, cahaya bulan purnama turut serta memeriahkan pesta kecil di rumah kami, kenapa aku katakan pesta kecil, yah..,karena hanya ibuku dan mas Ramadlan, yang hadir dalam pesta ini, walau tidak ada lampu hias, tidak ada dekorasi yang indah, tidak ada sepanduk ucapan selamat, namun cahaya rembulan sudah lebih dari cukup untuk mewakili semua itu dan turut meramaikan pesta ini, kami menggelar tikar di halaman samping rumah dan menyalakan api unggun untuk menghangatkan suasana, kami makan sepuasnya sambil bercanda, semua masakan di masak oleh ibu, ibu sekarang lebih banyak di rumah, sejak setahun yang lalu ibu mengangkat mas Ramadlan jadi asestennya, ternyata mas Ramdlan pintar bisnis juga, sejak dia jadi asesten ibu perusahan garmen kami melejit pesat, sekarang sudah membuka beberapa cabang di daerah. Nah malam ini kami melakukan pesta karena ada dua kegembiraan, pertama karena kelulusan ku dari SMA, yang kedua keberhasilan mas Ramadlan memenangkan tender penyedian pakaian untuk sebuah istansi pemerintah.
Malam semakin larut, angin malam yang dingin merayap seluruh sendi sendi tulang ku, cahaya rembulan meski tetap dengan setia menyinari bumi, namun wujudnya sudah bergeser, sesekali burung malam lewat menyapa, bagai ikut mengucapkan selamat untukku, api unggun yang dibuat mas Ramadlan sudah padam, namun aku dan ibu masih ngobrol halaman samping. Mas Ramadlan sudah masuk ke kamarnya, katanya sudah ngantuk dan besok pagi dia akan berangkat ke daerah untuk menghadiri pertemuan dengan pengusaha daerah tersebut.
Ton..., rencanamu mau kuliah kemana..., tanya ibuku
Rencananya saya mau masuk fakultas keguruan dan imu pendidikan ..., saya mau jadi guru sejarah bu...
Kenapa tidak mengambil ekonomi, supaya bisa menggantikan ibu, mengelola perusahan kita...,
Maaf bu..., saya sepertinya tidak tertarik untuk berbisnis, sekali lagi saya mohon maaf bu...,
Kalo itu sudah pilihanmu ibu hanya mendoakan saja...,
Aku juga agak heran dengan jiwaku, ayahku pebisnis yang berhasil, ibuku juga piawi sekali dalam berbisnis, tapi aku sendiri tidak tertarik di dunia bisnis, aku lebih tertarik jadi guru, aku sangat bersyukur ibuku orang sangat demokrasi, beliau tidak pernah memaksakan kehendaknya, beliau selalu mengajak aku bermusyawarah dalam setiap mengambil keputusan. Ibu agak lama terdiam, raut mukanya seperti ada sesuatu yang mengganjal, jangan jangan ibu kecewa dengan keputusan ku, aku jadi serba salah, tidak pernah ibu seperti ini.
Mohon maaf bu..., kalo keputusan saya mengecewakan ibu...
Ahh..tidak nak...
Kenapa ibu keliahatan seperti menyimpan sesuatu....
Sebenarnya ibu mau mengatakan sesuatu...tapi...., ibu terdiam tidak melanjutkan bicaranya
Tapi ...apa bu, katakan saja...saya akan siap mendengarkannya...

Ibu masih diam, sepertinya ada sesuatu yang sangat berat, ada masalah apa aku jadi bertanya tanya, ibu mengerutkan dahinya, kemudian menghela nafas.
Bigini nak..., ibu minta pendapatmu
Masalah apa bu...
Ibu kembali diam,....ibu mau menikah...,
Bagus bu..., dengan siapa ... ? sebenarnya aku agak kaget juga mendengarnya, namun aku memaklumi. Ibu tidak langsung menjawab pertanyaanku, beliau kembali terdiam, dia menatap wajahku, aku jadi rikuh
Kamu sekarang sudah besar ..., kamu sudah bisa mandiri..., jawab ibuku
Jadi selama ini ibu tidak mau menikah lagi karena ingin membesarkanku tanpa terbagi kasih sayangnya dengan orang lain, sekarang sudah waktunya ibu mau menyerahkan tanggungjawab mengurus aku kepada diriku sendiri, aku kembali menanyakan dengan siapa ibu mau menikah.
Menurut kamu mas Ramadlan itu bagaimana orangnya....
Aku agak aneh ibu menanyakan tentang mas Ramadlan, padahal mas Ramadlan sadah lama bersama dan sekarang sudah diangkat jadi asesten oleh ibu, tapi kenapa ibu bertanya lagi tentang Ramadlan.
Apa maksu ibu....?
Ibu mau menikah dengan mas Ramadlan..., jawab ibuku sambil menatap wajahku, kemudian beliau menunduk.
Aku sangat kaget, kanapa ibu memilih dia, tapi aku tak bisa bertanya, lidahku kelu, mulutku seperti terkunci, apalagi usia ibuku lebih tua sepuluh tahun dari mas Ramadlan, kenapa ibu pilih dia.., kenapa..., walaupun aku tahu mas Ramadlan itu selama ini menunjukan prilaku yang baik, pintar mengelola usaha ibuku, tapi hatiku sepertinya tidak setuju, entah apa alasannya aku sendiri tidak tahu.
Bagaimana Ton...kamu setuju,
Aku hanya mengangguk, tapi hatiku berat sekali menerimanya, namun aku tidak bisa mengungkapkannya, lagi pula aku sendiri tidak tahu kenapa perasaanku begitu.
***
Ibu ternyata tidak mengurangi kasih sayangnya kepadaku, meskipun sudah punya suami , selama sepuluh bulan beliau berumahtangga kelihatannya ibu bahagia sekali, aku pun ikut bahagia melihat ibu bahagia. Sejak empat bulan ini ibu total di rumah saja, semua urusan bisnis diserahkan kepada Mas Ramadlan suami ibu. ‘’ibu mau istirahat, ibu ingin hidup tenang” suatu hari ibu mengungkapkan keinginannya. Sejak tidak mengurusi bisnis lagi, ibu mulai menulis buku, selain itu mengurusi rumah, yang dulunya dikerjakan mas Ramadlan sekarang ibu yang mengerjakan.
Sudah satu minggu mas Ramadlan tidak pulang, ibu bilang dia sedang dia sedang di daerah meresmikan cabang baru. Namun perasaanku ada yang aneh, karena sejak dua bulan ini sudah tiga kali mas Ramadlan sering jarang pulang, ibu sekarang mulai banyak diam, beliau lebih banyak mengurung diri di kamar, tidak seperti biasanya, kalo habis shalat subuh beliau ke dapaur menyiapkan sarapan setelah itu menyapu halaman, selesai semuanya ngobrol dengan aku, tanya bagaimana kuliahku, siapa saja teman temanku. Namun sekarang ibu setelah shalat subuh beliau cuma duduk duduk, untuk sarapan beliau beli di rumah makan di seberang jalan, kadang kadang beliau tidak makan.
Ibu tidak sarapan…,
Nanti aja Ton….,
Kalo ibu tidak sarapan nanti sakit…,

Ibu tidak menjawab hanya tersenyum, kemudian beliau masuk kamar dan baru shalat zuhur baru keluar lagi, setelah itu mengurung diri lagi di kamar.
Aku jadi sedih melihat ibu seperti itu, beliau tidak cerita, tidak biasanya ibu seperti ini, biasanya ibu selalu cerita dan minta pendapat aku kalau ada masalah, bahkan masalah bisnis saja ibu minta pendapatku, tapi sekarang kenapa beliau begitu, aku juga agak takut menanyakannya. Sampai pada suatu malam, sekitar pukul sebelas aku dengar ibu bertengkar dengan mas Ramadlan, sekilas ku dengar ibu menanyakan tentang perempuan yang sering menelpon mas Ramadlan, bahkan ibu juga pernah membaca SMS nya, itu yang ku dengar dari marah ibu, namun aku tidak begitu jelas mendengarnya. Setelah pertengkaran itu mas Ramadlan pergi. Sejak kepergian itu mas Ramadlan tidak pulang, sekarang sudah sepuluh hari.
***
Lega rasanya hari ini, seperti terbebas dari penjara, tidak sia sia usahaku salam ini, semua mata kuliah yang ku ambil lulus dengan nilai terbaik, setelah melihat pengumuman aku mau jalan jalan ke mall, sudah lama aku tidak ke mall, sejak sebulan yang lalu hanya bolik balik toko buku dan perpustakaan. Aku pergi dengan Dani teman satu kampusku, dia teman yang paling akrab, dia anak cerdas, aku selalu belajar bersama dengannya.
Sebenarnya aku dan Dani ke mall tidak ada yang akan dibeli hanya jalan jalan, dari lantai bawah naik ke lantai dua lalu kelantai tiga.
Aku haus kita minum dulu …., kataku kepada Dani
Okay….bos…, (dia panggil aku bos, karena aku yang sering yang bayar, kalo makan atau minum, sebenarnya aku tidak setuju, tapi teman aku yang satu ini tidak peduli tetap saja panggil aku bos)
Kami pesan jus alpukat dan rate coklat, kedua makanan ini adalah kesukaan kami, entah apakah Dani juga suka, atau hanya ikut ikutan aku aja suka, tapi selama ini dia tidak pernah protes.
Hey..Ton…, itu bukankah suami ibumu…., ucap Dani sambil menunjuk ke arah seorang laki laki dengan menggandeng seorang wanita muda, aku kaget, sampai jus alpukat yang ku pegang jatuh, ternyata apa ang diributkan ibu dengan mas Ramadlan itu betul tentang seorang peempuan, mas Ramadlan menghianati ibu, aku mau mengejar, ingin ku pukul dia, namun kalah cepat dengan tangan Dani, Dani memegang badanku,
Sabar ..Ton…, tidak enak di lihat orang ribut di tempat umum.
Ayo ita pulang aja…, lanjutnya Dani.
***
Sudah satu minggu ibu di opname di rumah sakit, mas Ramadlan tidak tidak datang juga, hp nya tidak diangkat, kalo ditelpon ke kantor sekretarisnya bilang belum masuk, lalu aku datang ke kantornya, sekretarisnya bilang ke luar kota, aku tanya satpam, kata satpam pagi tadi masih ada.
Aku kembali ke rumah sakit naik taxi, diperjalanan aku melihat mobil mas Ramadlan dan dia duduk dibelakang dengan seorang perempuan.
Bang…, kembali ikuti mobil merah itu…, perintahku kepada sopir taxi
Cepat bang….., kami mengejar mobil mas Ramdlan, pas diperempatan jalan mobil kami tertahan lampu merah, kami kehilangan jejak. Aku sangat kesal, akhirnya aku kembali ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung ke ruang VIP, tempat ibu menginap, begitu aku membuka pintu di dalam dokter dan perawat sedang memasang tabung oxegen, aku kaget dan cemas
Ada apa dok…..
Ibu mu susah bernafas…, kata dokter
Ibu tidak sadar, matanya terpejam, nafasnya memang keliatan susah sekali, aku duduk disamping beliau, ku pegang tangan beliau, muka ibu keliatan pucat sekali, badannya kurus, tak terasa aku mengeluarkan air mata, aku sangat sedih melihat nasib ibu berakhir begini, dia tidak pernah bahagia, dengan ayahku hidup berumahtangga tidak lama, dia hanya sendiri mengurusku, mengelola bisnis ayahku, beliau ingin hidup tenang bahagia diakhir hayatnya kawin dengan mas Ramadlan, ternyata dikhianati, duh… ibu malang benar nasib mu, aku tetap memegang tangan beliau sesekali ku cium.
Aku merasa ada yang membelai rambuku, oh…ibu sudah sadar, rupanya aku tadi tertidur di samping ibuku.
Nak..Toni…,
Ada apa bu…, ibu istirahat aja dulu
Kamu harus…sabar…, jangan mendendam dengan siapapun…., kalau kita sabar Tuhan akan mengasihi kita, Tuhan suka dengan orang yang sabar, dan Tuhan tidak suka dengan orang yang pendendam….
Iya bu…
Bagaimana hasil ujianmu nak…
Alhamdulillah nilainya baik semua bu…
Syukurlah…, tapi ingat, kamu jangan lupa shalat, setiap ada kesulitan minta tolonglah kepada Tuhan, jangan suka mengeluh, jangan putus asa, kebahagaian sebenarnya adalah nanti, asalkan kita selalu taat kepada Tuhan. Anak ku… ingat itu…dan…
Apa bu …
Aku ingin pulang…
Tapi ibu belum sembuh…
ibu sudah sehat kok…, ibu hanya kecapen…
***
Sebenarnya dokter tidak mengizinkan ibu pulang, tapi ibu bersikeras tetap ingin pulang, aku minta kepada dokter agar bisa datang ke rumah kalo di perlukan, dokternya besedia.
Sudah dua hari ibu di rumah, sekarang sudah kelihatan sehat, ibu mulai membaca buku lagi, dan melanjutkan menulis bukunya.
Sudah lama aku tidak ke mesjid, sejak ibu masuk rumah sakit aku tidak pulang ke rumah, sejak dua hari ibu di rumah, akupun tidak ke mesjid juga aku shalat di rumah, subuh ini ibu kelihatan sehat sekali, tadi waktu aku shalat tahajjud, ibu sudah bangun sedang membaca al Qur’an. Aku berangkat ke mesjid, setelah minta izin kepada ibu.
Setelah shalat aku ngobrol dengan pak imam dan haji Somad, mereka menanyakan tentang keadaan ibu, perasanku tidak enak ada apa, aku mohon pamit kepada pak imam dan haji Somad, aku bergegas pulang, sesampainya di rumah, aku memberi salam, namun tidak ada jawaban dari ibu, perasanku makin tidak enak, aku mempercepat langku menuju kamar ibu, ibu ku terbaring di atas sajadah, al Qur’an yang ia pegang terjatuh di lantai, aku langsung memeluk ibuku, ku taruh kepalanya di pangkuanku, nafasnya sudah tidak teratur lagi
Ibu…ibu..bangun bu…
Nak ..Toni ..ingat pesan ibu waktu di rumah sakit ya.,..
Setelah ibu mengingatkan pesannya waktu di rumah sakit, ibu diam dan badan lemah, saya pegang lehernya… dan…nadinya sudah tidak berdenyut lagi, ibuku sudah….
Ibuuuu…ibuuuu….
Mendengar teriakanku tetangga berdatangan, termasuk pak imam dan haji Somad.
Ibu uuuuuu……., jangan tinggalkan aku bu, ibu bangun bu…, bangun bu…
Sudah lah nak..ikhlaskan kepergian ibumu, kamu harus tabah, biar ibumu pergi dengan tenang.., Haji Somad menenangkanku.
Semua sudah diatur yang di atas, semua yang bernyawa pasti mati, kita semua akan mati, lanjut pa Haji menasehatiku.
Ya..ya pa Haji…
***
Aku masih duduk di teras samping, sementara penyiar di radio FM masih cuap cuap, lagu lagu lama masih mengalun, penyiar masih saja menceritakan hal hal lucu, tapi tidak memuatku tertawa, aku tidak terkesan dengan lelocon penyiar di radio itu, meskipun leloconnya sangat lucu, kalo biasanya aku tidak bisa menahan tawa, kadang kadang ibuku ikut ikutan duduk menemaniku beliaupun tertawa terpingkal pingkal, sekarang aku hanya sendiri, tidak ada lagi yang menemaniku, malam semakin larut sudah pukul berapa sekarang, aku tidak tahu, mungkin sudah pukul dua belas, cuaca semakin dingin namun aku belum ngantuk, di rumah sekarang semakin sepi, tidak ada lagi yang membangunkanku untuk shalat tahajjud, sudah satu minggu ibu meninggalkan ku, tapi mas Ramadlan tidak menampakkan batang hidungnya, tega sekali dia menghkianati ibu, dia lupa pertama kali dia datang hanya pengemis, ibu yang memberi dia pekerjaan, ibu yang mengangkat statusnya dari hanya sekedar tukang kebun menjadi asestennya di perusahaan, kemudian ibu mengawininya, dan ibu mempercayakan semua urusan bisnis kepadanya, setelah mendapatkan semuanya dia lupa diri, memang tidak tahu diri, kurang ajar sekali, orang seperti itu harus dimusnahkan saja di muka bumi ini, besok aku harus menemuinya di kantor, ku habisi saja dia….
Allahu akbar Allahu akbar….
Aku terkejut mendengar suara azan di mesjid, ternyata aku tertidur di teras samping, sudah subuh sekarang, astaqfirullah…aku tidak shalat tahajjud, aku bergegas ke kamar mandi, terus wudlu dan berangkat ke Mesjid.
***
Hari ini si jahannam itu harus mati, ku buka tas ranselku lalu ku masukkan pisau belati, pokoknya si jahannam itu harus ku bunuh. Aku naik taxi menuju kantor Ramadlan, kurang lebih tiga puluh menit aku sudah sampai di depan kantor perusahan ibuku, yang sekarang dikelola oleh Ramadlan jahannam itu, aku kaget kantor itu sudah berganti nama, satpamnya pun bukan pak Darmo, tapi aku tetap masuk ke halaman kantor itu.
Ada yang bisa saya bantu mas…., tanya satpam itu
Pak Ramadlan ada…, tanyaku
Ramadlan yang mana ya…, satpam itu bingung
Pimpinan perusahan ini…
Maaf mas pimpinan perusahan ini sekarang pak Sumardi…
Sejak kapan bergantinya pak…
Sudah dua hari ini…, perusahan ini dibeli oleh pak Sumardi….
Apa…, jadi…., kepalaku pusing mataku berkunang kunang dan aku sudah tidak ingat lagi….

keputusan

sepasang muda-mudi yang menjalin kisah asmara. mereka selalu berjalan beriring, tak terfikirkan oleh masalah yang biasanya terjadi dalam suatu hubungan yang lebih dari sekedar pertemanan. istilah 'DUNIA SERASA MILIK BERDUA' mereka hapus jauh2 dari dlm benak mereka. Walaupun Mereka memiliki sifat yang berbeda, sang cowok berpendapat bahwa ceweknya yang bernama Lisa itu gampang alsan, suka bohong, tapi sangat tabah dalam menjalani hidupnya yg mungkin berantakan karna kedua orang tuanya bercerai dikala masih kecil. Namun Lisa jg memiliki pendapat bahwa cowoknya, Dira itu Egois,Posesif dan cemburuan, dibalik ke-Playboian-nya dia memiliki sifat gampang tak tega pada siapapun, selalu menolong tanpa memandang kasta. Suatu waktu, mereka dilanda sebuah isu bahwa Lisa memiliki cowok simpanan di Sekolahnya, karna sekolah mereka berdua berbeda, mereka hanya bisa saling percaya. tapi Karna sudah menjadi sifat Dira yang sangat cemburuan, dia memulai perang dingin dgn Lisa. Lisa tetap sabar dan mencoba menjelaskan bahwa itu hanya isu belaka. "Namanya keras kepala, kalau dikasih hati pasti tetep aja" seru Lisa. dengan ketusnya Dira menjawab " Alah,,, alesan aja bisanya. kenapa sih setiap ada Cowok yg dketin kamu. eh direspon juga ! gini ni jadinya, dia cari kesempatan buat dapetin kamu." Lisa membalas " Ya udah lah drpd brantem terus aku pulang aja, lagian aku juga disini kamu cuekin ". Lisa Pulang, hingga di tengah jalan, dia tertabrak dan dia menjadi pendiam setelah dirawat dirumah sakit.Namun DIra tidak tau sm skali bahwa Lisa d Rumah sakit. Dira telpon ga' pernah di angkat,Sms ga' di BAles. Lama2 Dira jadi bosen, trus cerita ke teman2nya tentang semua hal yang terjadi. tiba2 teman dira yang bernama Ratna SMS ke Lisa. Isi smsnya semua memojokkan Lisa pada posisi yg salah. Akhirnya, Lisa memutuskan untuk menyudahi hubungannya dgn Dira. Dira marah,padahal yg seharusnya bilang ptus dia tp knp sebaliknya. akhirnya dia asal nembak beberapa teman ceweknya dan berusaha untuk pamer ke Lisa, tapi Dira samasekali ga' pernah ktmu dgn Lisa, padahal biasanya Lisa menunggu jemputan di BAwah Pohon dekat gerbang Sekolahnya. Lama2 Dira merasa percuma melakukan hal bodoh itu, Toh Lisa jg ga' ngefek,ktmu aja ga'. Setelah 1 bulan Lisa tanpa kabar, datang sebuah SMS yang mengabarkan Lisa meninggal dunia sesaat setelah menjalani operasi pada kepalanya. Hati Dira hancur,LEmah tak berdaya,dia MArah pada dirinya sendiri, lalu dia memutuskan untuk menebus dosanya dgn melakukan bunuh diri. Akhirnya keputusan nekat itu dia ambil tanpa pkir panjang,dan Dira ditemukan tewas meminum obat melebihi dosis pada kamar KOSt nya.

hantu photo

Hantu FotoGuntur dan gerimis mengiringi kedatangan Dani ke rumah bibinya. Seperti biasa, setahu sekali Dani selalu datang ke rumah bibinya, yang ia sudah anggap sebagai ibunya.“Bibi, aku pulang!!”Panggilan itu diulang lagi oleh Dani, tetapi tak dijawab juga. Dani pun memberanikan dirinya menelusuri ruang demi ruang yang ada di rumah bibinya. Akhinya Dani melihat sesosok wanita yang duduk di samping seorang lelaki. Di ruangan yang pengap sekali.“Bi…….Bibi….”“Oh, kamu Dani…….” Bibi Dani menghhusap air mata yang membasahi matanya.“Kok bibi nangis ?! ”“Enggak kok. Bibi hanya……”“Itu siapa, Bi?” Unjuk Dani kepada lelaki yang duduk dengan kaki terpasung.“Kamu tentu masih ingat kan, ini Sandri, yang dulu sering main sama kamu waktu kecil.’Dani berusaha mengingat – ingat nama itu, sesekali ia memukul kepalanya. Akhirnya ia ingat dengan sosok lelaki itu.“Oh, Sandri!! Yang dulu sering ngambil mangga tetangga ya bu ?! Kok dia sekarang seperti ini sih Bu!?Air mata bibi keluar duluan sebelum ucapan darinya keluar. Bibi terlihat sedih sekali untuk menceritakan hal ini. Setelah terdia beberapa saat, akhirnya bibi mau menceritakan hal itu.“Begini ceritanya, nak.”****“San…..San……” teriak sesosok wanita dari kejauhan.“Siapa ya……!?” Sandri berusaha mengingat – ingat lagi sosok wanita itu, yang terus berlari ke arah dia.“San…..kok bengong aja? Bingung ya ngelihat aku? Atau kamu lupa sama aku?”“Kamu siapa ya…? Kayaknya kita pernah ketemu”.“Ini aku, Siska. Teman kamu waktu SMA dulu. Masa kamu lupa!!!”Sandri berupaya untuk mengingat- ingat nama itu, Siska yang melihat Sandri berpikir keras, juga membantu Sandri untuk mengingat – ingat lagi dirinya, dengan menunjukkan foto – foto waktu mereka SMA.“ Oh, kamu, Siska, yang dulu pernah menang lomba menyanyi tingkat provinsi kan!!”“Nah, itu baru ingat. Dasar master pelupa!!” Siska menjitak kepala Sandri.“Ya…maklum!! Banyak bacaan yang harus dihafal, jadi urusan yang kayak begitu kadang suka lupa.”“Memangnya sekarang kamu jadi apa?”“Fotografer. Eh, kamu mau ikut aku makan siang nggak?”“Mmm……boleh,” Siska langsung menggangdeng tangan Sandri.“Dasar, master makan sama master rayu!!”Siska menjulurkan lidahnya kepada Sandri. Seakan tak menghiraukan ucapan Sandri. Mereka meluncur ke tempat makan favorit mereka. Sandri memesan nasi uduk dengan semangkuk sup ayam didepannya serta lemon tea, sedangkan Siska hanya memesan sepiring pie apel kesukaannya dan segelas susu hangat.“Ngomong – ngomong sekarang kamu kerja jadi apa?””“Aku jadi editor majalah misteri.’ Ucap Siska sambil melahap sesendok pie yang dipesannya.“Kok kamu malah kerja jadi editor majalah misteri. Bukkanya kamu dulu takut sama yang berbau misteri.”“Yah…apa mau dikata. Kerjaan sekarang semakin sudah didapat. Bukan hanya IT, atau kerjaan banking yang susah untuk dapatinnya. Kerjaan seperti aku saja, yang kata orang – orang nggak menghasilkan duit lebih, malah susah juga dapatinnya.” Siska menggambil sebuah catatan kecil dan majalah misteri dari tasnya. Sepertinya ada yang mau ditanyakan kepada Sandri.“San…waktu itu, aku menulis sebuah kasus. Kamu lihat disini deh!!” Unjuk Siska kepada sebuah foto dan artikel di majalah itu, “ Foto cewek itu kelihatan samar dan terpisah dari foto – foto lain. Foto ini diambil tanggal 12 Agustus, dan cewek ini meninggal keesokannya.”“Terus?”“Kamu kan seorang fotografer. Kamu tahu nggak sebab – sebab foto seseorang bisa buram?”“Ehm…biasanya pada saat memfoto kurang fokus, ketajaman lensanya kurang diatur.....”“Atau bisa juga ada hantu foto!?” Siska langsung memotong penjelasan Sandri. Bulu kuduk Siska langsung merinding, ia langsung menutup majalah yang ia tunjukkan kepada Sandri.“Dasar penakut!! Nggak mungkinlah ada hantu foto!!”“Eh, bi….bisa aja tahu!! Kasus ini sudah menimpa sekitar 5 orang dalam jangka waktu satu bulan.”“Ya…nantikamu yang keenam, nanti ia datang ke rumah kamu dan berkata Siska ikut dengan aku!!!Hi..hi..hi!!” kata James seraya menjulurkan tangannya ke arah Siska. Siska yang ketakutan langsung menutupi wajahnya.“James, sudahlah!!! Aku takut tahu!!”“Makanya jangan berpikir yang nggak – nggak!! Jadilah orang yang selalu berpikir positif dan jangan mudah percaya.” Jame skembail melanjutkan makannya setelah puas menakut – nakuti Siska.“Ya…deh. Aku nggak mudah percaya lagi.” Siska mengambil minuman yang sudah tersedia di depannya“Tapi bisa juga sih….” Ucap Sandri perlahan.“Nah, sekarang kamu yang berpikiran kayak begitu!”“A…aku…cuma… Sudahlah, aku mau balik dulu!!” Sandri langsung memanggil pelayan untuk membayar pesanan mereka, lalu bergegas pergi tanpa menghiraukan Siska.“Dasar egois, giliran dia yang takut, malah langsung kabur aja!!” gumam SiskaSelama perjalanan, Sandri terus memikirkan apa yang dikatakan Siska barusan. Ia terus berpikir apakah kasus yang menimpa cewek itu benar kecelakaan murni, atau memang ada campur tangan hantu foto. Sesekali ia berusaha melepaskan hal itu dalam benaknya, tapi hal itu terus menggantung dipikirannya.Keesokan harinya, Siska datang ke tempat kerja Sandri. Sandri pun kaget ketika mendapati Siska datang dengan raut wajah yang stress, dan kurang tidur juga. Seperti orang begadang, begitulah banyak orang menggambarkan raut wajah seperti itu.“San….” Panggil Siska dengan pelan.“Kenapa, Sis? Kok kayak orang stress begitu? Ada masalah ya?”“Ya….aku nggak bisa tidur. Di mimpiku ada seorang cewek yang datang ke kamarku . Cewek itu terlihat sangat pucat. Ia duduk disampingku. Semula aku heran kenapa ia bisa masuk ke kamarku, aku berusaha bertanya kepadanya, tapi ia tak merespon. Lalu, ia menjulurkan tangannya ke leherku, dan mencekiku sekeras mungkin. Aku berusaha melawan, tapi tak bisa. Aku yang serasa sudah mau mati, akhirnya terbangun dari mimpiku itu dan kulihat ke sekelilingku tidak ada sesuatu yang terjadi.” Siska lemas, sangat lemas sekali. Sandri mengambil kursi dan segelas air putih untuk Siska. “Kamu nggak coba untuk tidur lagi?” “Tidak bisa, San!!! Aku berusaha untuk tidur lagi. Memejamkan mataku, tapi wajah perempuan itu terus muncul dimimpiku.”Sandri bingung. ”Mengapa arwah perempuan itu mengganggu Siska? Apakah Siska ada masalah dengan wanita itu?” gumamnya“Aku sepertinya tak ada masalah dengan siapapun, termasuk orang yang meninggal dunia. Tapi, kenapa ???!!” “Mungkin kamu harus berkonsultasi dengan psikiater atau juga kepada ahli – ahli agama.”Siska hanya mengangguk kecil, seakan sudah mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh Sandri. Pikirannya masih kosong, apa yang akan dilakukannya masih belum ia pikirkan.“Kamu nggak kerja hari ini ?”“Nggak, aku cuti. Mungkin aku juga ambil cuti selama seminggu. Untuk menenangkan pikiranku.”“Sudah, pulang sana. Tenangkan pikiranmu dulu. Atau kamu ingin di kantorku? Temani aku bekerja?“Nggak, aku mau pulang dulu, thanks ya.”“Sama – sama. Hati – hati di jalan!!”Teriak Sandri dari ruangannya kepada Siska, yang hanya terdengar sedikit oleh Siska.Sandri makin bingung akan masalah Siska. Ia membeli majalah – majalah misteri, termasuk majalah kepunyaan Siska dan buku – buku psikolog. Ia membaca semuanya, namun tak menemukan masalah – masalah seperti Siska dan pemecahannya. Kemudian ia mengambil buku fotografi sewaktu ia kuliah, disitu hanya dijelaskan foto – foto penampakan oleh sebuah foto polaroid ataupun digital, yang belum terbukti kebenarannya. Ia pun semakin bingung, apakah benar hantu foto itu sengaja menggangu kehidupan Siska? Apakah maksud dan tujuan si hantu itu?Keesokan harinya, Siska kembali datang ke kantor Sandri, namun ia tak menemukan Sandri di ruang kerjanya. Ia pun mencari Sandri di tempat pencucian foto, karena pikirnya Sandri pasti sedang mencuci foto atau sedang memotret. Siska masuk ke ruangan itu dan memanggil Sandri dengan suara yang lebih pelan dari kemarin. Sandri menoleh dan kaget ketika ia melihat raut muka Siska lebih muram daripada yang biasa. “Kenapa lagi, Sis? Ia datang lagi? Pakai cara apa lagi,?”“Lebih sadis lagi dari yang kemarin, Ia datang ke kamarku dengan membawa pisau dapur, aku yang melihat pisau itu berusaha bangkit, tapi ia memegang tanganku dan menutup mulutku dengan tangannya, kemudian ia menusukkan pisau itu ke tubuhku sebanyak 13 kali, pada hujaman terakhir, akupun bangun lagi dari mimpiku.”“Kamu sudah konsultasi belum?”“Sudah…aku sudak konsultasi dengan psikiater. Katanya aku mungkin sedang banyak pikiran sehingga aku berpikir yang tidak – tidak. Kepada ahli agama aku disuruh untuk sering berdoa kepada Tuhan.“Ya, kamu ikuti kata – kata mereka!!”Siska mengangguk“Kamu sedang apa?” tanya Siska “Lagi mengeringkan foto – foto ini. Kamu mau lihat nggak, ini foto – foto yang tadi baru aku cuci.” Sandri menyerahkan foto – foto itu kepada Siska. Siska melihat foto – foto itu dengan seksama, namun ia terkejut pada satu foto, foto itu mirip sekali dengan foto pada majalah misteri yang ia bawa. “San… Fo..foto ini mirip dengan foto pada majalah misteri itu.”Sandri mengambil foto itu dari tangan Siska, ai melihat dengan seksama.“Apa!! Nggak ada apa – apa. Kamu mimpi kali!? Mungkin kamu kurang tidur jadi mata kamu kurang melihat dengan jelas!”“Nggak kok, aku benar – benar melihat itu. Foto itu mirip banget sama foto di majalah itu.”“Mungkin kamu mimpi kali!! Sudahlah, aku mau taruh foto – foto ini dulu.” Sandri mengambil foto – foto itu dari tangan Siska.*“San….”ucap Siska di telepon.“Kenapa?”“Lusa, tanggal 13 aku mau pergi ke psikiater di luar kota. Besok bisa ketemuan?”“Bisa….bisa kok. Mau jam berapa?” Sandri langsung mengambil HP-nya dan membuka pengingat, untuk mencatat pertemuan mereka.“Jam 10.30, bisa?”“Jam 11.00 bisa nggak? Soalnya aku ada rapat sekitar jam segitu.”“Boleh, kita ketemuan di taman kota ya.”“Oke.”Sandri langsung meluncur dengan motornya ke taman kota, tempat mereka bertemu. Disana Siska sudah menunggu dengan mantel kotak – kotak dan dandanan yang sangat natural sekali. Ia juga membawa 2 buah soda dan sebuah kamera.“Sis….sorry telat. Tadi aku baru selesai rapat jam 11.00” “Nggak apa – apa kok. Nih, soda buat kamu.”“Makasih. Kamu kenapa, kok ngajak ketemuan? Memangnya ada masalah lagi?” “Nggak, cuman salam perpisahan. Besok kan aku mau pergi, jadi aku ingin ketemu kamu untuk yang terakhir kalinya.”“Ah, kan cuman keluar kota doang.”“Siapa tahu besok aku udah nggak ada di dunia ini lagi!”Bulu – bulu kuduk Sandri berdiri, angin yang menyentuh kulitnya membuatnya ia gemetar. Kata – kata Siska membuat ia ketakutan.“Sis, jangan ngomong kayak begitu dong. Aku takut nih!!”“Loh, bukannya kamu bilang jangan berpikir negatif atas apapun. Kamu jangan pikiran negatif dulu terhadap kata – kataku. Kan kematian datangnya tiba – tiba.”“Oke..oke…Aku mengaku, tapi jangan ngomong kayak gitu lagi.”“Ya…ya…San, kita foto yuk. Buat tanda kenang – kenangan.”Mereka pun berfoto dengan pose mereka masing – masing , mereka berdua sangat senang. Sepertinya masalah - masalah mereka sirna sudah.“Tolong cuci foto itu ya, untukku.”Siska menyerahkan kameranya kepada Sandri.“Tenang saja, besok sebelum kamu pergi, aku akan memberikan ini kepadamu.” Sandri langsung menyimpan kameranya, seakan tak ingin kehilangan momen – momen indah mereka.“Makasih…”*Keesokan paginya, sebelum Siska pergi, Sandri mencuci film di kamera Siska, yang dititipkan kepadanya untuk dicuci. Sandri mencuci foto itu dengan sebaik mungkin, setelah foto itu ia cuci dan keringkan. Alangkah kagetnya Sandri, semua gambar – gambar Siska buram, sedangkan ia tidak.“Kok, gambar Siska buram ya? Padahal semuanya telah kufoto dengan baik.” Sandri pun bingung, lalu ia terpikir sesuatu, kemudia ia mengambil majalah – majalah yang menyimpan foto – foto itu. Ia mencocokannya dan ternyata mirip. Ia memeriksa foto itu dengan seksama, terutama gambar Siska, ternyata dibalik foto itu ada bayangan perempuan disamping Siska, yang menyelimuti gambar Siska dengan tubuhnya, sedangkan wajah Siska dihalangi oleh rambutnya.“Kok, ada per…em…puan…di…foto…i..tu…ya…?” Sandri melempar foto – foto itu. Ia sangat takut, takut sekali.Tiba – tiba ponselnya berbunyi, ia menerima sms dari Siska.“San, udah cuci fotoku belum? Aku udah mau jalan, entar kamu titipkan ya, sama Bibi Surni. Dah…”“Gawat, aku harus menyusul Siska, dan mengatakan bahwa ia tidak boleh pergi, akan ada bencana besar menimpa dia, seperti korban – korban lainnya.”Sandri pun bergegas menuju motornya dan mengendarainya menuju rumah Siska. Akhirnya, ia sampai di rumah Siska, tapi ia sudah pergi.“Kemana ia pergi, bi!?”“Tadi sih ke arah sana, den. Emangnya ada apa, den?” ucap Bibi Surni sambil menunjuk arah yang dilalui oleh SiskaSandri langsung menelusuri jalan yang ditempuh Siska, tapi sampai tengah jalan motornya mogok, terpaksa ia menintipkan motornya, dan berlari menuju mobil Siska yang sedang antri bersama mobil lainnya di lampu merah. “Sis…sis..tunggu aku. Kamu jangan pergi!!” ucap Sandri berulang – ulang sambil berlari menuju mobil Siska. Namun, asmanya kambuh pada saat perjalanan.“Ayo, dong asma jangan kambuh.” Sandri berusaha sekuat mungkin untuk berlari, tapi ia sudah lemas, ia pun mengeluarkan inhalernya dan duduk di jalanan untuk berstirahat sebentar. Tapi mobil Siska sudah jalan bersama mobil yang lainnya. Di lain arah, ada sebuah truk gandeng yang menerobos lampu merah, dan menabrak deretan mobil di depannya, termasuk mobil Siska.“Siska…..Siska!!!!!” teriak Sandri sekencang mungkin di antara sekerumunan orang yang berlari menuju lokasi kejadian.**“Jadi, Sandri melihat denagn mata kepalanya sendiri temannya tewas dengan tragis.” Tanya Dani kepada bibinya yang terus menangis menceritakan kisah anaknya.“Ya….setiap hari ia memanggil nama temannya, warga sini sudah mengira ia gila dan memaksa ibu untuk memasung dia, akhirnya ibu lakukan saja, dengan terpaksa tentunya.”“Ibu sudah membawanya ke psikiater?”“Sudah banyak psikiater yang ibu kunjungi, termasuk ahli – ahli pengobatan, namun ia tak sembuh juga. Sepertinya ini penyakit yang sulit disembuhkan.”“Tabah ya, Bi” Dani menempuk pundak bibinya, bibinya sangat terpukul atas kejadian – kejadian itu.“Makasih. Ayo makan dulu. Kamu pasti sudah lapar.” Mereka berdua pun bangun dari temat duduk mereka yang sudah mereka tempati selama beberapa jam. Namun, sesuatu yang terselip di tas Dani, jatuh dan mengenai wajah Sandri.“Ups…maaf. Sini saya ambil.”Sandri tak mengembalikan barang itu, ia melihat isi dari kantong tersebut, dan ternyata adalah foto – foto kepunyaan Dani, setelah ia melihat dengan seksama. Ia menangis dengan kerasnya, seperti waktu ia melihat kematian Siska.“Dia datang lagi, dia datang lagi. Dia akan membunuh kerabatku lagi!!!” Kata – kata itu terus diulang dengan suara yang keras. Ibunya Sandri langsung menenagkan Sandri. Ia pun melihat foto – foto yang dipegang oelh Sandri, ia tercenang akan foto –foto itu.“Dani, hati – hati!! sesuatu yang hebat akan menimpa kamu, sama seperti yang dialami Siska.”“Ma…maksud Ibu!?” tanya Dani heran“Ya…kematian mengenaskan oleh hantu foto.”

mimpi and kematian

Mimpi dan Kematian“Dione… tenang..Dione…”Siang itu taman di belakang sekolah hanya didatangi oleh sepasang manusia yang meributkan tentang sesuatu. Dione tidak berhenti-hentinya panik. Walaupun sudah ditenangkan oleh William, tapi tetap saja, kepanikan Dione tidak hilang-hilang juga. Kepanikan ini bukanlah sesuatu yang berlebihan, tapi adalah suatu kenyataan. Ia bermimpi(lagi) tentang kematian yang melanda teman-temannya, yang sudah dialaminya selama 2 bulan ini. Dan, kali ini mimpi itu mengatakan bahwa William, kekasihnya, yang akan meninggal.“Hei, sudahlah! Kematian kan bukan datang dari mimpi. Kematian itu milik Tuhan, bukanlah milik siapa-siapa.” William berusaha menenangkan.Dione mendesah. Ia tahu bahwa kematian memang milik Tuhan. Tapi, pikirannya tak bisa melepaskan masalah ini begitu aja. Ia takut, sudah 2 mimpi ia lalui, dan kedua-duanya menjadi kenyataan. Bahkan kenyataan yang menyakitkan.“Tapi, William. Aku.. Aku…sendiri….”Entah kenapa, Dione sendiri pun bingung. Di kelurganya tidak ada satupun yang mempunyai kekutaan supranatural seperti ini. Tapi, entah kenapa, sejak ia menginjak umur ke 17, 3 bulan yang lalu, bayangan menakutkan itu datang ke pikirannya lewat mimpi yang mencekam.Dan mimpi pertama, yaitu mimpi tentang Garcia, sahabat terbaiknya. ** “Gar.. Jangan makan bakso itu!!” Dione berusaha menghalangi Garcia yang tetap ingin makan bakso itu. Sudah 3 kali Dione mencoba menghadang Dione untuk memakannya, tetapi, Garcia tetap saja ingin makan.Garcia sudah tidak tahan. Sepanjang pelajaran tadi, Garcia sudah kelaparan setengah mati. Ketemu Fisika 3 jam, dan Kimia 1 jam, bagaikan menghabiskan bensin motor 3 liter. Dan ia harus isi bensin dengan baso ini. Tapi, Dione mencoba menghadang dia untuk makan bakso ini.“Dione.. ku.. yang cantik… Kenapa sih?? Gue laper dari tadi. Ketemu Termodinamika sama hidrolisis tadi itu bikin gue laper. Sekarang gue pengen makan. Memangnya kenapa sih? Apa karena mimpi loe yang jelek itu?”Dione mengangguk.“Loe itu ya selalu kebawa sama mimpi. Baru mimpi kayak begitu aja. Memangnya gue matinya gimana? Kecekek sama anjing gue?”“Entah, enggak gitu keliatan. Tapi, yang pasti, kamu kayak kejang-kejang. Aku takut kamu keracunan makanan karena bakso ini.”Garcia tertawa kecil. Meremehkan ketakutan Dione. Garcia tetap melanjutkan makan bakso yang ia beli tadi.“Sekarang gini aja,” Garcia menarik napas sejenak, mencoba meredam emosi, dan menelan basonya, “Kalau loe masih berpikiran kayak begitu terus, lebih baik loe konsultasi ke psikiater deh. Udah level parah kayaknya. Oke?”Dione terlihat pasrah. Ia meninggalkan Garcia sendirian yang sedang asyik dengan baksonya.Keesokan paginya. Seiisi sekolah terkejut. Garcia meninggal keracunan. **“Lucina? Di..Dione, itu kan semua karena kecelakaan. Kematian adikmu kan karena kecelakaan, bukan karena mimpi itu,” William mencoba menyadarkan Dione dari semua permasalahan ini. “Realistislah, Dione! Realistis!”“Aku tahu. Aku mencoba untuk realistis. Tapi, semua itu benar kan, semuanya sesuai dengan mimpiku!”William terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia ingat dengan kisah Lucina, adiknya Dione, yang meninggal persis dengan mimpi Dione. Lucina? Ya, itu adik Dione satu-satunya. Lucina memiliki kekuarangan yang menjadi sebab kenapa Dione sayang sekali dengan Lucina. Lucina lumpuh. Hidupnya hanya tergantung pada kursi roda yang dibeli oleh Dione dari hasil menang lomba Sains yang ia ikuti waktu SMP. Walaupun jarak umur mereka tidak jauh berbeda, tapi tidak ada sedikitpun kecemburuan yang timbul di hati Lucina. Lagipula, orang tua mereka tidak seperti ayahnya Garcia, yang merupakan pengusaha besar di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Ayah Dione dan Lucina hanya buruh pabrik di Bogor. Ibu mereka hanya seorang akuntan di Bekasi. Mereka hanya tinggal dengan paman dan bibi mereka yang berada di daerah pedalaman Tangerang, karena ketidakmungkinan ayah dan ibu mengurus mereka.Dan, yang membuat Dione tidak bisa melupakan kasus Lucina, yaitu mimpi dia yang tidak bisa ia cegah. Malam itu, Dione baru saja bermimpi, bahwa Lucina meninggal dengan cara yang tragis. Tapi, kali ini, mimpinya tak terlihat jelas. Buyar sekali. Hari ini ia memutuskan, tidak masuk sekolah terlebih dahulu.“Loh, kenapa Kak? Kakak sakit?” Tanya Lucina cemas“Nggak.. Kakak cuman ada sedikit masalah aja. Biasalah.”Lucina sudah tahu masalah apa yang dialami kakaknya. Maklum, semua cewek pasti mengalaminya. Lagipula, Lucina lega kali ini kakaknya ada di rumah. Kakaknya berjanji akan mengajaknya main keluar. Kebetulan, kakaknya akan mengajak dia bermain di pantai, yang tak jauh dari rumahnya.Jam 10, mereka pun langsung berangkat ke pantai. Suasana pantai pagi itu memang tidak seperti biasanya, apalagi pada saat hari minggu. Maklum, hari ini hari sibuk, mana ada yang mau meluangkan waktu nya sedikit untuk melepas lelah di pantai ini. Lagipula, pantai ini kan sudah lama tidak dijadikan tempat wisata. Sejak kerusuhan Mei 1998, beberapa tempat di pantai ini dibakar habis oleh para penjarah. So, bisa dibayangin kan seramnya?!Tapi, walaupun seram, Lucina dan Dione selalu mencari tempat ini. Selain dekat rumah, banyak kenangan-kenangan masa kecil yang tak bisa mereka lupakan.“Kak, jadi kangen ama mama dan papa,” Lucina menangis. Ia teringat akan mama dan papanya yang sibuk akan kerjaanya masing-masing, sampai-sampai tak pernah menjenguk mereka sama sekali.Dione memeluk Lucina dari belakang kursi rodanya. Kehangatan yang diberikan Dione kepada Lucina, memang dapat dikatakan seperti kehangatan orang tua mereka sendiri. Keadaanlah yang mengharuskan Dione untuk tumbuh dewasa seperti ini.“Luci, mama sama papa kan lagi cari uang buat kita. Lagipula, mereka kan nggak lagi main-main. Kalau mereka main-main, kakak bisa bantuin kamu buat marahin mereka. Oke?” Dione mengeluarkan toss-an nya kepada Lucina, yang disambut toss juga oleh Lucina.“Kak..”“Ya, kenapa?”“Kalau nanti aku meninggal, kakak sedih nggak?”Dione terdiam. Ia terhenyak. Ia tak menyangka adiknya berbicara seperti itu lagi. Adiknya memang sering berbicara soal kematian, karena kondisinya sekarang yang seperti ini. Dione sudah beberapa kali menahan Lucina agar tidak berbicara seperti itu. Tapi, Lucina tetap saja berbicara seperti itu. Dan, parahnya lagi, Dione takut, ini adalah terjemahan mimpinya yang kemarin.“Ka…kamu jangan mikir kayak begitu lagi lah. Aneh-aneh aja!”Lucina hanya terdiam. Wajahnya berubah sendu. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Sepertinya ada masalah yang membuat ia sedih seperti ini.“Tadi malam aku bermimpi lagi kak. Kali ini mimpinya beda. Ada seorang kakek datang kepadaku, dan mengatakan kepadaku, bahwa Tuhan ingin aku bersamanya hari ini,” kata Lucina terisak-isak.Dione terpekur. Kenapa Lucina bisa bermimpi seperti itu? Apakah malaikat kematian memang akan mencabut nyawanya hari ini?“Lucina, jangan berpikir seperti itu. Siapa tahu Tuhan hanya ingin menemanimu di mimpimu.” Dione tak tahan lagi. Dia langsung menarik kursi roda Lucina dan mengajakanya pulang. Lucina pun menurutinya. Ia tahu perasaan kakaknya kali ini sedang gundah.Rumahnya yang terletak di seberang pantai, membuat mereka harus menyebrang setiap kali ke pantai ini, termasuk hari ini.Dione melihat ke sekeliling, tak ada mobil yang lewat. Dione bersiap-siap untuk menyeberang. Tetapi, pas mereka sudah menyeberang seperempat jalan, bus datang dari sisi kanan dengan kecepatan tinggi, Dione yang refleks, langsung menarik tubuhnya dan kursi roda Lucina ke belakang. Tetapi, asap tebal yang dihasilkan bus tadi menutupi wajah mereka, sehingga Dione dan Lucina tidak melihat ada mobil yang melintas beriringan di belakang angkot itu. Karena kurang cepatnya Dione menarik kursi roda Lucina, Lucina pun tertabrak oleh mobil itu. Dione yang masih memegang kursi roda Lucina, mencoba mengimbangi kursi rodanya agar kecepatan mereka sama. Tapi, tekanan yang terlalu kencang mengakibatkan Dione melepaskan pegangannya dari kursi roda Lucina. Lucina dan kursi rodanya terpental jauh sekali, dan berhenti 8 detik kemudian.***“Tapi, Dione. Setelah aku pikir-pikir. Kematian Lucina kan kebetulan! Bukan karena mimpimu itu, Dione!” William mulai terlihat geram. Ia langsung mengambil tasnya yang tergeletak di rerumputan. Ia sudah mulai gerah mendengar semua ketakutan Dione yang terlalu berlebihan. Ia hanya percaya bahwa kematian seseorang sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa, bukan oleh siapa-siapa.“Memangnya aku bagaimana di mimpimu itu?!” tanya William lagi dengan nada kesal.Dione terdiam. Wajahnya semakin tunduk ke bawah. Tapi, anehnya, kini ia tidak menangis seperti biasanya. Tangannya terlihat mengambil sesuatu dari belakang bajunya. Dione tersenyum simpul di balik rambut yang menutupi wajahnya. Seketika, Dione langsung melompat ke tubuh William dan menusukan benda, yaitu gunting yang cukup besar, ke perut William.“Dengan cara seperti ini!!!” teriak Dione. Sepertinya teriakannya kali ini terdengar teriakan yang sangat puas. Puas sekali.William tertegun. Tubuhnya terasa lemas karena gunting yang ditusuk oleh Dione ke perutnya. Seluruh tubuhnya mati rasa. Ia tak menyangka, kekasihnya ini bisa membunuhnya. William mencoba melakukan perlawanan dengan menarik tubuhnya ke belakang, tapi Dione yang memiliki ilmu karate menahan tubuhnya agar tidak terlepas dari gunting itu. Bahkan, Dione mendorong tubuh William hingga tiang bendera yang ada di taman itu, sehingga William tidak bisa melakukan perlawan lagi. . “Ke..kenapa??” tanya William tersengal-sengal.Dione tersenyum. Sepertinya pertanyaan itu yang sedang ia tunggu.“Aku… melakukan..ini..karena…aku muak dengan kalian, terutama dengan kau dan garcia!!”“ Muak kenapa?”“Kau kira aku tidak tahu, kalian berdua berselingkuh di belakang ku. Kau kira aku tidak tahu, kau suka jalan dengan Garcia pas hari sabtu, padahal alasanmu sedang ada urusan keluarga. kau kira aku tidak tahu!! hah!!!“A..aku tidak seperti itu, Dione,” William mencoba menyadarkan Dione yang sudah kehilangan akal sehatnya. Walaupun, semua yang dibicarakan oleh Dione itu BENAR, tetapi ia tidak pernah berselingkuh. Ia hanya suka jalan dengan Garcia karena mereka berdua adalah teman sejak kecil. Mereka berdua sering bermain bersama sejak dulu. Tetapi, sejak Ayahnya Garcia ditugaskan di Den Haag, Garcia harus berpisah dengan Wiliam ketika SD. Dan, mereka bertemu lagi ketika mereka SMA, ketika Garcia kembali lagi ke Indonesia. William menyesal, tidak memberitahukan hubungan pertemanan mereka kepada Dione, sehingga Dione berprasangka buruk seperti ini.“Bohong!!! Jangan bohong! Kau kira aku tidak tahu semua tipuanmu, hah!” Dione mendorong guntingnya semakin keras. William mengerang kesakitan.“Oh ya, dan satu lagi. Semua mimpi-mimpi itu, hanyalah sebuah kebohongan! Sebenarnya, aku tidak pernah bermimpi seperti itu. Aku hanya mengarang semua cerita bohong itu.”William tersentak. Semua mimpi itu, ternyata bohong???“Kenapa, kaget ya? Ha!” Dione tersenyum sinis sembari mendorong tubuh William yang sudah semakin lemas. “Semua itu hanya rekayasa aku aja, biar kalian ketakutan. Dan juga, aku sengaja memusnahkan Garcia, aku sengaja menuangkan racun arsenik ke dalam baso itu ketika Garcia sedang pergi ke WC. Dan untuk adikku, Lucina, itu juga bohong. Kejadian waktu itu bukan karena aku lalai, tapi karena aku sengaja. Aku sengaja melepaskan pegangan itu, karena aku takut aku juga akan mati dengan Lucina bila aku ikut terseret dengannya. Lagipula, aku sebal juga dengan adikku, ia selalu berbicara soal kematian, dikit-dikit mati, dikit-dikit mati, itu semua membuat aku gila, Gila!!! Tau nggak!!!”William baru sadar, ia telah dibodohi oleh gadis alim seperti Dione, yang ternyata berpikiran licik seperti ini. Sekarang ia telah masuk dalam jebakannya. William juga sadar, Dione telah dirasuki oleh kegelapan batin dan kebodohan yang kritis.Tinggal sedikit lagi, kematian akan menjemputnya. Kematian atas kelalaiannya. Ia hanya bisa berdoa, semoga Dione diampuni atas semua dosa-dosanya. Dan, arwahnya bisa diterima oleh Tuhan.Tiba-tiba terbesit sesuatu di pikiran William. Ia baru teringat, ia menyimpan pisau lipat di saku celananya. Tanpa berpikir panjang, William langsung mengambil pisau itu, dan menusukkanya ke bahu Dione dengan cepat. Dione terhenyak. Kini keadaan seimbang.“Ingat kisah Romeo Julliete?” tanya William, “Kali ini kita akan mati bersama-sama, Dione Refinka,” William terus mendorong tubuh Dione ke belakang. Dione mencoba menyelamatkan diri dengan melakukan jurus-jurus karatenya. Tapi, William yang mengerti serangan-serangan Dione, mencoba menahan serangan kaki Dione dengan kakinya yang kuat karena sering bermain futsal. Justru, William melakukan serangan balasan dengan menendang kaki Dione. Dione terjatuh, tapi Dione cepat menahan tubuhnya dengan kaki kirinya.“Sorry, Dione. Tapi, Circus is Over!”Dione berusaha bangun kembali ke posisi semula. Tapi, William melakukan serangan terakhirnya dengan cepat. William mencabut gunting yang tertancap di perutnya, dan menancapkan gunting ke perut Dione.Dione tewas.Willam menarik napas sejenak. Ia membunuh kekasihnya, yang tadi ingin membunuh dirinya, dan juga telah membunuh Garcia, teman baiknya.William berjalan meninggalkan jasad Dione. Tapi, perutnya yang sudah terkoyak sebagian oleh gunting Dione, membuat semua energi dan staminanya habis total. Wajahnya berubah pucat pasi. Langkahnya tiba-tiba terhenti. Tubuhnya yang semula berdiri tegak, kini mulai runtuh. Napasnya mulai tersengal-sengal.Dari kejauhan, di dalam tidurnya. William melihat Garcia menyapa dia dengan senyuman yang lembut, dan mencoba memanggilnya dengan panggilan tanpa suara. William hanya bisa tersenyum menatap Garcia.Tak lama kemudian, William hanyut dalam kedamaian yang abadi.

akhir sebuah pesan

Aku murid pindahan di SMA Bakti. Sebelumnya aku bersekolah di salah satu SMA Swasta di kawasan perkotaan. Tapi, karena mengikuti tugas papa yang seorang insinyur pembangunan kami sekeluarga harus ikut pindah untuk sementara ke luar kota. Kami tinggal disebuah desa yang damai dan sejuk, jauh dari lalu lalang kesibukkan kota. Dari sinilah pertemananku dengan Rey dimulai. Memang, sejak pertama kali aku bertemu dengan Rey ada suatu keganjilan pada dirinya. Rey seorang anak yang senang menyendiri, jarang kulihat dia berbincang dengan teman-teman sekelas. Kali ini aku mencoba untuk memberanikan diri berbicara dengannya. Sebab ada sesuatu yang menarikku untuk berteman dengannya, entah apa itu.“Hmm, permisi. Perkenalkan namaku Dylan, kamu pasti Rey,” ucapku sambil mengulurkan tangan. Saat itu pula dalam benakku muncul berbagai pertanyaan, bagaimana jika Rey tidak memperdulikanku dan pergi begitu saja? Ternyata dugaanku itu salah. Rey menanggapi kehadiranku dengan baik.“Ya, aku Rey. Kamu murid baru itu kan, Dylan,” Rey tersenyum lembut seolah tahu apa maksudku. “Eh, Rey kenapa sih kamu kok jarang berbincang dengan teman lain. Padahal kamu itu ternyata anaknya enak diajak bicara lho,”tanyaku pada Rey.“Mungkin... sebentar lagi kamu akan tahu yang sebenarnya Dylan,” jawab Rey dengan nada datar namun serius.Yang benar saja kata-kata Rey barusan membuat aku takut sekaligus penasaran. Apa ya, maksud dari perkataan Rey tadi? Apakah tidak ada sebuah penjelasan yang lebih logis lagi? Entah benar atau tidak yang dikatakan Rey tadi aku tidak tahu, yang pasti aku merasa harus mengungkapkan sebuah misteri pada diri Rey.“Maaf, apa maksud dari perkataanmu tadi Rey?”. “Sudahlah Dylan tidak usah diteruskan, besok baru aku akan mengatakannya padamu, Ok!” jawab Rey seraya meninggalkanku. Saat itu pula semilir angin lembut merasuki tubuhku, membuat jiwaku sedikit tenang.Bel pulang sekolah berbunyi saatnya para murid bergegas untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Aku pulang dengan berjalan kaki, karena rumahku tidak begitu jauh dari sekolah. Rasanya saat ini hatiku sedang kalut termakan waktu, aku mulai merasakan sesuatu sejak berteman dengan Rey. Kehidupanku mulai berubah, banyak hal aneh yang terjadi pada diriku.
***
Gorden kamarku bergoyang tertiup angin, kulihat indahnya langit disinari cahaya bintang dan bulan. Sejenak aku berpikir, dunia ini memang aneh, begitu banyak kisah yang terjadi dan sebuah takdir yang harus dijalani.Tiba-tiba saja mataku terasa begitu berat dan dengan cepat aku terlelap dalam tidurku. Anehnya dalam mimpiku muncul seorang kakek yang tidak kukenal. Dan aku mencoba untuk bertanya pada kakek tua itu. “Maaf, kakek siapa? Dan apa yang sedang kakek lakukan disini?” Ternyata, ekspresi kakek itu sama dengan apa yang dilakukan oleh Rey. Kakek tua itu hanya tersenyum lembut seolah berkata, suatu saat kau akan mengetahuinya.“Dylan...!!! Cepat bangun sayang, sudah pagi nanti terlambat sekolah lho,” suara mama membuatku terjaga dari tidurku.“Iya, ma…! Dylan bangun,” mimpi apa tadi, lagi-lagi hal aneh terjadi. Siapa ya kakek itu? Tapi hati ini rasanya begitu dekat dengan kakek tua itu. Sudahlah aku harus berangkat sekolah.
***
Di sekolah, aku terburu-buru untuk menemui Rey. Tapi tidak kutemukan Rey dimanapun. Akhirnya setelah setiap sudut sekolah ku jelajahi barulah aku menemukan Rey diruangan Lab. IPA, entah apa yang sedang dilakukannya. Yang kutahu hanyalah melihat Rey sedang menatap langit-langit seolah berbicara pada mereka. Selintas aku berpikir, apakah Rey sudah gila. Tapi tak kuhiraukan pikiran itu, aku mencoba untuk berpikir positif. Kutemui Rey dan bertanya apa yang sudah terjadi selama ini. Tiba-tiba Rey mengatakan suatu hal yang tidak ku mengerti.“Dylan... aku rasa sudah saatnya kau harus mengetahui ini semua. Peganglah tanganku dan pejamkan mata,”ungkap Rey meyakinkan.Kucoba untuk mengikuti apa yang dikatakan Rey. Tiba-tiba seperti ada kekuatan besar yang mendorong dan sebuah angin kencang meliputi kami. Saat Rey mengatakan untuk membuka mata, penglihatanku seakan tak percaya akan apa yang ada di depan mataku. Sebuah pemandangan yang tak dapat dijelaskan secara nalar manusia sedang kulihat. Aku merasa berada di alam lain, sebuah padang rumput luas ada didepan mata. Padahal baru saja kami di ruang Lab. IPA di sekolah. “Dylan, coba lihatlah sekelilingmu lebih seksama lagi. Apa yang kamu lihat?” perkataan Rey membuyarkan lamunanku.“Baiklah, Rey,” jawabku. Tak lama kemudian baru kusadari bahwa didepanku ada sebuah rumah yang sangat mewah, tapi rumah itu terlihat sangat kuno dan nampaknya rumah itu tak asing bagiku, ternyata rumah itu mirip dengan rumah di desa yang sedang aku tempati saat ini. “Bukankah itu rumah yang saat ini aku tempati?”
“Benar, Dylan. Sebenarnya semua silsilah keluargamu berasal dari sini dan kau terpilih untuk mengungkap ini semua. Saat ini aku membawamu ke masa lalu atas permintaan seseorang, kau lihat seorang kakek disana? Amatilah apa yang sedang dilakukan kakek tua itu,” ujar Rey padaku.“Baiklah, sepertinya kakek itu sedang menanam sesuatu tapi bukan tanaman yang sedang beliau tanam. Tapi apa? Eh, lihat Rey sepertinya kakek itu yang pernah muncul dalam mimpiku,” “Ayo! Dylan kita ke sana kakek itu sudah masuk kedalam rumah. Kita lihat apa yang ditanam,” teriak Rey. “I...iya, Rey,”ucapku terbata-bata kebingungan.Kami mulai menggali dengan alat seadanya, tapi...hampir saja kami menemukan apa yang telah kami cari selama ini. Tiba-tiba saja teman kami yang bernama Soraya datang ke ruang Lab. IPA, mengagetkan kami berdua sehingga kami kembali ke dunia nyata. Padahal belum sempat kami mengetahui apa yang di tanam kakek itu. Seketika itu pula Rey menyingkir dan berlari meninggalkan kami. Sementara Soraya bingung melihat apa yang terjadi aku berlari menyusul Rey.“Rey….!!! Tunggu! Sekarang apa yang harus kita lakukan?” Tanyaku kebingungan.“Ini memang sudah takdir, kita tidak boleh menggalinya lewat alam lain. Tapi harus dalam dunia nyata. Kita harus melakukannya sekarang, Dylan antar aku ke rumahmu. Mintalah bantuan orang tuamu untuk menggalinya,” pinta Rey.“Baik!”
***
Mama dan papa membantu kami menggali tanah didepan halaman rumah. Dan ternyata memang benar ada sesuatu didalamnya. Sebuah peti baja berlapis perak yang berisi sebuah naskah kuno yang menjelaskan tentang riwayat keluargaku. Seusai mendengarkan papa mengartikan naskah kuno tersebut, aku menjadi paham apa maksud dari semua ini. Ternyata kakek tua itu adalah ayah dari kakek buyutku. Beliau menyebutkan, bahwa naskah itu adalah benda yang sangat berharga bagi keluarga kami dan harus digunakan dengan sebaik-baiknya. Itulah sebabnya mengapa papa ditempatkan bertugas di desa ini, karena takdir yang membawa kami.