THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES
Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Januari 2010

melangkah diatas awan

Lara berjalan memasuki halaman rumahnya yang tak terlalu besar, ditangannya tertenteng kresek hitam kecil yang isinya nasi krawu dua bungkus. Nasi itu dia beli untuk makan sore satu untuknya dan yang satunya lagi khusus untuk anaknya yang mulai beranjak dewasa. Setiap pulang kerja dia kerap membawa makanan untuk dimakan berdua sebagai makan sore,bukan makan siang seperti kebanyakan orang.
Kalau untuk sarapan pagi dia sengaja memasak sendiri walaupun sekedarnya, biasanya setiap pagi Lara menggoreng tahu ditambah sambal kecap. Meskipun hanya sederhana mereka sangat menikmati sarapan paginya. Untuk makan malam Lara biasanya merebus singkong hasil dari membedhol perkebunan di samping rumahnya yang sisa lahannya tak terlalu besar hanya sekitar 3 x 4 meter. Lahan kosong itu oleh Lara ditanami Singkong, Cabe, daun Kemangi, dan Daun Bayam Apabila anaknya merasa enek hanya dengan singkong direbus biasanya Lara membuat variasi singkong rebus ditumbuk halus kemudian di beri gula dan garam atau ditambah parutan kelapa, hmmm….mirip-mirip dibilang gethuk lah,gethuk ala Larasati.
Sambil berjalan menuju pintu rumahnya,samar-samar telinganya mendengar suara orang bercakap-cakap dari dalam rumah,dipelankan langkahnya untuk mengintip sebentar siapakah gerangan orang yang bertamu sore-sore begini. Tak biasanya ada orang yang mau datang bertamu di rumahnya, selain sempit dan sedikit tak terawatt, Lara dikenal sebagai janda muda nan cantik. Sebenarnya banyak para lelaki yang ingin memilikinya sebagai istri tetapi Lara menolak dengan halus. Bahkan tiga hari yang lalu sempat Lara di pinang oleh juragan beras kaya raya bernama Haji Sujud, Beliau akan menjadikan Lara sebagai istri ke lima dan dijanjikan dibangunkan rumah mewah di kota jauh dari empat istri sebelumnya.
Seandainya kalau Lara menerima pinangan Haji Sujud, dia tak perlu bekerja keras untuk menghidupi Dhimas anak laki-laki semata wayangnya yang kini berada di kelas dua Sekolah Menengah dan sedang membutuhkan biaya banyak. Sebenarnya Lara tidak ingin menolak pinangan seorang Laki-laki, tetapi karena tidakmendapat persetujuan Dhimas dan demi menghormati anaknya, maka Lara rela menyendiri.
Lara melongokkan kepalanya melalui kaca jendela yang tertutup tirai putih tipis. Dari situ dia bisa melihat sekilas Dhimas duduk diantara dua tamu yang tak dikenal. Jantung Lara berdegup kencang, Kecemasan Lara memang beralasan, sejak menolak pinangan Haji Sujud, dia selalu didatangi orang yang tak dikenal dan selalu memaksa agar Lara menerima pinangan juragan beras tersebut. Terhitung sudah tiga kali, bahkan yang terakhir Lara diimingi-imingi uang Lima Puluh Juta dengan pecahan lima puluh ribuan. Kalau Iman Lara kendur saat itu maka dengan hanya sekali anggukan Lara pasti akan menjadi Nyonya kaya mendadak.
Untuk memastikan siapa tamu yang saat ini sedang berada didalam rumahnya, pelan-pelan Lara menajamkan pandangan sambil kepalanya di majukan agar terlihat sangat jelas siapa dua orang tamu tersebut. Setelah bisa melihat jelas siapa tamunya, jantung Lara kian berdegup tak beraturan, tamu tersebut seorang laki-laki dan perempuan setengah tua yang kini sedang mengajak bicara Dhimas, jantungnya kian kencang berdegup setelah tau bahwa lara sangat-sangat mengenal wajah mereka.Setengah tak percaya diamati lagi wajah kedua tamunya, ya …. tidak salah mereka adalah orang tua Prawiro. Laki-laki yang telah meninggalkan dirinya dan anaknya saat berumur satu tahun.
Pikiran Lara menjadi tak karuan memikirkan apa yang sedang mereka bicarakan kepada Dhimas, sedangkan Dhimas, anak SMP yang belum paham akan hidup dan tentang kehidupan pasti juga tidak tahu siapa mereka.
Lara menjadi bingung, kini kakinya sangat berat untuk diajak melangkah. Lara memundurkan kakinya beberapa langkah mendekati tembok sengaja agar kedatangannya tidak diketahui Dhimas dan kedua tamunya. Sedikit ada perasaan marah dan kecewa menggelayuti jalan pikirannya. Tak dinyana kenapa orang tua itu datang ke rumahnya, Mengapa setelah Empat Belas Tahun baru kali ini mereka melihat cucu yang sudah ditinggal Ayahnya minggat entah kemana. Apakah selama itu mereka masih menyimpan rasa kangen? Mengapa harus Orangtua Prawira yang datang menemui anaknya? Kenapa tidak Prawiro sendiri yang datang menemuinya dan anaknya?
Masih teringat dibenaknya Empat Belas Tahun lalu, Prawiro meninggalkannya dan meninggalkan Dhimas yang masih berusia satu tahun, usia anak-anak yang masih sangat lucu, Waktu itu kehidupan kami sangat bahagia, meskipun tidak berlebihan tetapi Prawiro bisa mencukupi kehidupan kami bertiga walaupun mengandalkan gaji Prawiro yang bekerja sebagai Roomboy di sebuah hotel bintang tiga.
Dengan dalih akan dinaikkan jabatannya sebagai Manajer apabila dia mau ditempatkan di luar kota dan dengan alasan agar penghasilannya bertambah Prawiro rela menuruti perintah atasannya untuk berangkat ke Denpasar meninggalkan Lara dan Dhimas kecil. Prawiro berjanji akan pulang sebulan sekali untuk melepas kangen dan berjanji juga kalau sudah berhasil dia akan memboyong anak dan istrinya ke Pulau Dewata.
Sempat Lara menolak ditinggalkan oleh Prawiro karena diusia yang sama-sama masih muda dia ingin tetap di Surabaya membesarkan Dhimas bersama-sama. Karena kerasnya tekad Prawiro Lara pun tak bisa mengelak untuk melepaskan Prawiro pergi.
Bulan pertama Prawiro masih pulang mengunjungi dirinya dan Dhimas. Bulan kedua pun demikian. Bulan ketiga, keempat dan terakhir bulan kelima bahkan Prawiro berjanji akan mengajaknya dan Dhimas untuk tinggal di Denpasar karena ucapan Prawiro saat itu kehidupan di Denpasar sudah lebih baik dari kehidupan di Surabaya. Lara sangat bahagia mendengarnya, Menginjak bulan keenam peristiwa mulai muncul, janji awalnya mulai diabaikan,dia tidak pulang ke Surabaya menjenguk anak dan istrinya, kiriman uang pun mulai tak sampai ditangannya.
Awalnya Lara masih berpikiran positif bahwa karena kesibukan suaminya maka tidak bisa pulang menjenguknya dan anaknya. Bulan ke tujuh dan kedelapan keyakinan terhadap suaminya semakin luntur, kiriman uang bulanan sudah mulai tidak dia terima bahkan setiap dihubungi di kantornya jawaban yang ia dapat selalu sedang keluar. Lara mulai putus asa.

Tekad Lara waktu itu sudah bulat, Dhimas dia titipkan kepada Ibunya, dan dia sendiri berangkat mencari Prawiro ke Bali, hanya dengan petunjuk nomor telepon kantor tempat Prawiro bekerja dia menghubungi Call Center Telkom setempat untuk menanyakan alamat, Setelah mendapatkan alamat yang dituju Lara kaget bukan kepalang, bukan berita baik yang Ia terima tetapi sesuatu yang sangat menyayat lubuk hatinya. Di dalam ruang kerjanya, dengan mata kepalanya sendiri Lara melihat suaminya sedang bermesraan bersama wanita lain. Entah itu tamu hotel, entah itu teman kerjanya, Saat itu tanpa berpikir panjang, Lara langsung berlari menjambak rambut wanita perampas suaminya itu dengan bertubi-tubi, dia koyak-koyak wajahnya seperti harimau beringas.
Setelah puas melampiaskan amarahnya, Lara langsung kembali ke Surabaya. Upaya Prawiro untuk menjelaskan duduk permasalahnnya sudah tak dipedulikan lagi.Semua sudah jelas bahwa suaminya telah mengkhianati kesucian pernikahan mereka.
Sesampai di Surabaya diceritakannya kelakuan bejat Prawiro kepada Ibunya, sambil menangis-nangis di pangkuan Ibunya dia berjanji akan membuat wajah wanita itu rusak. Sehari di Surabaya, Lara berangkat lagi menuju sebuah kota untuk mencari dukun yang bisa membuat wajah wanita itu tidak cantik. Dia ingin membuat wajah wanita itu menjijikkan dengan dipenuhi nanah agar Prawiro meninggalkan wanita jalang itu. Meskipun sebenarnya dia tahu cara yang Ia lakukan adalah dosa tetapi waktu itu Lara sudah gelap mata dan kehabisan akal untuk berpikir.
Beberapa dukun sudah Ia temui tetapi percuma saja hal itu tak akan membuat Prawiro kembali ke pangkuannya. Sudah berapa uang yang habis tak terhitung jumlahnya, dan tetap juga tak mengembalikan ayah Dhimas kembali ke pangkuannya.Dengan perasaan sedih dan bingung Lara kembali menemui suaminya ke Denpasar, kali ini dia pun memohon dan mengemis agar suaminya meninggalkan wanita itu untuk kemudian kembali ke pelukannya dan merawat Dhimas bersama-sama. Tetapi apa yang dia dapatkan hanya mimpi, Suaminya sudah berkeras tak mau kembali ke pangkuannya.
Dengan hati penuh kekecewaan Lara kembali lagi ke Surabaya. Hanya tinggal satu kasih sayang dari Ibunya yang menyadarkan Lara untuk mengikhlaskan saja suaminya, dan berdoa agar Lara di beri petunjuk yang benar untuk menjalani kehidupan selanjutnya tanpa suami.
Dengan uang pensiun ayah Lara yang sudah meninggal ,Ibunya dan Lara membesarkan Dhimas,karena waktu itu Lara tidak mempunyai pekerjaan. Setelah Dhimas mulai besar, Lara mencoba bekerja. Pekerjaan apapun dilakukankan asal halal dan dapat menghidupi mereka bertiga. Lima tahun kemudian Ibu Lara meninggal,sehingga Lara sendiri yang harus pontang-panting bekerja sambil membesarkan dan merawat Dhimas sendirian.
“Nak Lara..” Lara terkejut karena melihat tamunya sudah berdiri didepannya, sedangkan Dhimas berdiri di belakang jendela kaca.
“Ibu dan bapak ada keperluan apa datang kemari?” Tanya lara datar.
“Nak Lara, kedatangan kami kemari dan atas nama Prawiro, kami ingin meminta maaf karena telah menelantarkan kalian”
“Maaf Pak, Bu, pekerjaan saya masih banyak, langsung saja apa maksud kedatangan Anda kemari?” Potong Lara.
“Kami kemari ingin memberikan uang ini hadiah dari Prawiro. Terimalah….” Lara kaget melihat segepok uang seratus ribuan, entah jumlahnya berapa. Tetapi Lara sadar meskipun Ia sedang butuh uang tetapi tidak harus menunjukkan kepada orang lain bahwa saat ini dia sedang membutukan uang, butuh bayar sekolah, butuh uang belanja dan seandainya dia memikirkan harga diri mungkin tanpa piker panjang dia akan langsung menerimanya.
“Uang apa itu ?”
“Uang ini pemberian Prawiro untukmu, tetapi dengan satu syarat kami harus membawa Dhimas pulang…”
“Maksud Anda, dengan menyogok uang kalian ingin merebut Dhimas dari saya? Maaf Bu, Pak, meskipun Dhimas adalah buah perkawinan saya dan anak Bapak dan Ibu, tetapi sayalah yang membesarkannya dan sayalah yang telah memberinya kasih sayang, walaupun ditambah sepuluh kali lipatpun uang itu tidak akan bisa menyembuhkan luka hati saya, dan sekarang kalian boleh pergi, jangan injak rumah ini lagi…”
“Pergi…Pergi dari sini….”Lara berteriak kesetanan kemudian pingsan. Cepet-cepat Dhimas memeluk Ibunya.

Sabtu, 02 Januari 2010

kamut

++
berpikir lah sebelum lah kau bertindak agar kau tak menyesal dikemudiaan hari
##
setiap tindakan pasti selalu akan membuah hasilnya
%%
janganlah kau menilai eseorang hanya karna bgus rupa
^^
janganlah kau menilai org hny kekayaan dumiawi krn itu tak mungkin kekal
##
kau tak mgkn sendiran disini byk yg membthkan km and jnglah kau berlarut2 dlm kesediahan
karna itu tak mgkn merubah kehendak allah
++
jadilah manusia yg tegar jng jadi manusia yg lemah dlm menghdpi cobaan yg diberikan karna mua itu pst ada hikmanya

gita and dita

Gita dan Dika

“Gita dan Dika” kembali Gita membaca tulisan itu. Deretan kata yang tertulis di bagian belakang sampul depan diary-nya. Nggak ada yang istimewa dari jalinan huruf yang tertera berwarna hitam itu. Kecuali…kecuali kenangan akan Dika yang kembali terukir perlahan-lahan di benak Gita. “Halo, kenalkan saya Dika, berasal dari Cilacap.” Menjadi kalimat pertama yang keluar dari bibir Dika ketika dia pertama kali masuk di kelas Gita. Ya, dia memang siswa baru pindahan dari kota kecil Cilacap. Ke sini, dia mengikuti orangtuanya yang dipindahkan tugasnyasebagai seorang dokter. Prestasi mengkilap sebagai seorang dokter di Puskesmas kecamatan udah berhasil membuat rumah sakit sebesar RS Karyadi melirik kemudian memanggilnya. Seluruh siswa di dalam kelas nggak terlalu menaruh perhatian akan kedatangan Dika di hari pertama itu, semua sedang disibukkan oleh persiapan pentas seni yang akan diselenggarakan oleh sekolah di akhir bulan. Kedatangan Dika seperti angin lalu, hanya selintas dan kemudian dibiarkan begitu saja. Saat wali kelas bertanya, “adakah yang ingin ditanyakan kepadateman baru kalian ini?” kelas seperti kuburan di tengah malam yang sunyi. Ngaak seorang pun menjawab. Ketua kelas, Andi, yang biasanya ramah dan bijak terlihat nggak peduli. Kepalanya penuh dengan aneka macam ide. Memang kebetulan sekali kedatangan Dika tepat pada saat persiapan pentas seni digelar. Jam pelajaran Matematika Bu Husna memang diminta untuk rapat persiapan pentas seni. Bu Husna sebagai wali kelas tentu aja nggak keberatan dan sangat mendukung kelasnya ini dapat tampil di pentas seni dan memberikan penampilan terbaiknya. Maka, kedatangan Dika benar-benar seperti pengganggu. Di tengah rapat yang sedang a lot dan penuh dengan lontaran ide serta perdebatan sengit, dia malah datang diantar oleh Bu Husna. Akibatnya, Dika terabaikan di hari pertamanya masuk di sekolah baru. Kebetulan pula, di kelas ini ada sebuah meja kosong di belakang yang nggak berpenghuni. Jadilah Dika duduk disana seorang diri. Hari berganti dan pentas seni semakin dekat. Andi masih juga kebingungan, belum lagi memutuskan jenis kesenian apa yang akan ditampilkan pada pentas seni nanti. Banyak sekali usulan dari teman-teman sekelasnya seperti gerak dan lagu, pembacaan puisi, teater sampai parody. Namun, Andi tahu betul itu hanyalah usulan ngawur. Andi cukup sadar dan tahu benar gimana teman-temannya yang hobi omong besar namun dalam pelaksanaannya nol besar. Pendek kata, kelas Andi adalah kelas NATO, “No Action Talk Only”. Kondisi itulah yang membuatnya pusing tujuh keliling. Bagaimana nggak, kalau dia udah memutuskan sesuatu berdasarkan usulan dari teman-temannya, maka dia sendiri yang harus melaksanakan usulan itu. Adapun si pencetus ide? Ah, pasti udah kabur entah kemana. Seperti makan buah simalakama aja! Kalau ide nggak dilaksanakan, maka kelas masih bingung apa yang akan ditampilkan. Tapi saat ide udah dilaksanakan, maka itu artinya kerepotan yang amat sangat baginya. Duhhh. . . . Entah kali ke berapa rapat digelar lagi. Memang usulan udah mulai mengerucut menjadi beberapa jenis kesenian aja yang akan ditampilkan. Gerak dan lagu oleh Rini and gang menjadi sebuah pilihan. Meski diantara anggota gang Rini sendiri masih timbul perdebatan mengenai jenis lagu apa yang akan digunakan sebagai music latar. Semua anggota gang mengusulkan lagu kegemaran masing-masing. Akhirnya, kata sepakat masih jauh dari harapan. Pembacaan puisi bisa juga ditampilkan, namun Andi mendengar dari sahabatnya di kelas sebelah: Ardi. Bahwa kelas Ardi bakal menampilkan puisi, bahkan lengkap dengan teater. Jadilah kembali Andi pusing karena nampaknya ide pembacaan puisi juga batal. Nggak mungkin, bukan, meniru ide kelas sebelah? Apa kata dunia nanti? Usulan terakhir adalah menampilkan band. Namun usulan ini juga menghadapi rintangan yang nggak mudah. Anggota band di kelas ini nggak lengkap. Dodo dan Doni memang jago memainkan gitar, tapi ngaak mungkin cuma mereka berdua yang tampil tanpa kelengkapan anggota-anggota yang lain bukan? Rapat di hari itu pun masih juga belum mengambil keputusan apa-apa. Dan sementara itu Dika, ah, apa kabarnya dia, ya? Hei, ternyata dia udah berani bergaul dengan beberapa orang teman di sekitar tempat duduknya yang mojok di belakang. Mulai dari menanyakan pelajaran sampai meminjam tip-ex. Boleh juga keberanian Dika. Dia nggak minder meski berasal dari kota kecil. Satu per satu temam-teman di sekitar tempat duduknya mulai dikenalnya. Wuri adalah cewek yang mula-mula dikenal oleh Dika. Beberapa catatan Wuri dipinjamnya untuk mengejar pelajaran yang tertinggal. Terkadang beberapa alat tulis Wuri juga sering dipinjam Dika. Mulanya memang Wuri merasa terganggu, apalagi dia tergolong siswi yang pelit. Namun, entah kenapa pada Dika hal itu nggak terjadi. Wuri sukarela meminjamkan semua benda miliknya kepada Dika. Awalnya nggak seorang pun teman-teman sekelasnya menyadari sikap Wuri ini. Selain karena Dika dan Wuri duduk di bagian belakang, keduanya juga nggak terlibat aktif dalam rapat. Sampai pada suatu ketika, Andi meminta usulan dari teman-temannya lagi. Saat tiba giliran Wuri dia berkata, “Dika memiliki usulan yang sebaiknya kalian dengar.” “Nah, usulanmu sendiri apa?” Andi sepertinya enggan mendengarkan suara murid baru dan memilih meminta Pendapat Wuri. “Aku nggak puny aide, kurasa ideku nggak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan ide Dika.” Jawaban Wuri ini disertai dengan rona merah di pipinya. Dan memang, bila diperhatikan di dalam jawabannya ini terkandung pujian yang tersembunyi kepada Dika. “Baiklah, jadi apa usulmu, Dika?” Andi nggak sabar sekaligus merasa penasaran dengan jawaban Wuri barusan. Sebenarnya, memang Andi nggak suka kalo ada siswa lain di kelas yang memiliki kelebihan yang nggak dimilikinya. Dan entah karena apa, dia merasa Dika memiliki kelebihan itu. Pejantan kalo udah ketemu pejantan, agaknya memang ingin memamerkan siapa di antara mereka yang lebih jago, bukan?. Dika nggak segera menjawab, justru pandangannya diarahkan ke seantero kelas. Dengan itu, ternyata dia udah bisa meminta perhatian seluruh kelas, artinya, kelas yang semula ramai karena masing-masing sibuk berbincang dan berbisik-bisik, merasa segan karena lirikan mata tajam Dika. Ketika kelas udah menjadi sunyi, barulah Dika berkata. “Ya, memang benar saudara Andi apa yang dikatakan saudari Wuri itu. Aku punya sedikit ide yang barangkali bisa kita tampilkan pada saat pentas seni nanti. Namun, sebenarnya ide biasa aja, kok, hanya Wuri yang sedikit melebih-lebihkan.” “jadi, apa idemu itu, kawan?” nampaknya Dodo udah nggak sabar dengan perkataan Dika yang panjang dan lebar itu. “Aku dengar dari Wuri, di kelas ini ada seseorang yang bersuara merdu bernama Gita, apakah memang demikian adanya?” Dika berkata demikian sambil pandangannya kembali mengarah ke seluruh kelas. Sebenarnyalah dia memang belum tahu siapa Gita itu. “Yess, itu memang benar, lantas apa hubungannya dengan Gita?” Doni yang ramah kali ini memberikan jawaban. “Aku bermaksud bernyanyi berduet dengannya saat pentas seni besok, bila teman-teman semua setuju.” Jawaban Dika ini nggak diduga sebelumnya oleh seluruh teman-temannya. Begitu percaya diri dia mengajukan dirinya sendiri. “Boleh juga usulmu, namun kami belum tahu bagaimana kamu bernyanyi, Dika.” Gita kali ini yang menjawab. Sekaligus dengan ini Dika menjadi tahu siapa sosok bernama Gita. Pada beberapa kejap Dika terpesona pada Gita. Siswi yang duduk di depan sendiri itu memang beberapa kali membuatnya bertanya-tanya. Ada aura lain saat Dika mengamatinya, namun untuk bertanya kepada Wuri, Dika merasa malu. Keduanya saling berpandangan beberapa saat, dan nggak sadar kalau seluruh kelas memerhatikan mereka berdua. “Hei, malah pacaran, jadi bagaimana kamu bernyanyi Dika?” Andi merasa cemburu melihat keduanya saling berpandangan begitu rupa.

***

Dika pun mulai menunjukkan kemampuanyya. Dan benar, ternyata dika bernyanyi begitu indah. Petika gitar Dodo dan Doni menjadi music pengiring yang melengkapi kelembutan suara Dika. Gita bahkan sampai terpesona, nggak bisa berkata-kata dan terus tercengang mengamati. Ahh lebih tepat menikmati nyanyian Dika. Semenjak detik itu keduanya sering berlatih bersama-sama. Mereka menjadi dekat satu sama lain. Dan bagaimana dengan duet mereka? Bukan main, Andi bahkan sampai merinding saat mendengar suara mereka berdua berpadu dalam sebuah lagu. Begitu memesona apa yang mereka tampilkan. Di telinga anak-anak yang lain, lagu yang mereka bawakan udah sangat bagus, namun keduanya justru merasa belum puas. Mereka tiap hari bersama dan terus menerus berlatih setiap pulang sekolah sampai dengan beberapa hari menjelang pentas seni berlangsung. Gita dan Dika begitu nama mereka di panggil oleh pembawa acara, maka seluruh penonton yang terdiri dari siswa-siswi dan dewan guru bersorak-sorak. Memang Gita udah dikenal karena suaranya yang merdu, namun bagaimana dengan Dika? Hal ini cukup menjadi pertanyaan di setiap kepala. Itu aja belum cukup. Penampilan Dodo dan Doni yang akan mengiringi dengan gitar masing-masing juga menimbulkan ketertarikan. Yang lebih heboh, seluruh teman-teman sekelas ikut turut serta di belakang dua orang penyanyi dan dua orang gitaris itu. Mereka menjadi suara latar yang akan memperindah suara Gita dan Dika. Jadi sebenarnya selain mereka berdua tekun berlatih, Gita dan Dika juga melatih teman-temannya yang lain untuk mendukung penampilan mereka. Akhirnya seluruh kelas ikut berperan dalam pentas seni. Sesuatu yang nggak bisa dilakukan oleh kelas-kelas lain. Dan tahukah bahwa ternyata semua itu adalah ide Dika si anak baru.

***

Gita udah nggak lagi membaca deretan kata ‘Gita dan Dika’ di bagian belakang sampul depan bukunya. Dia udah kelar membuka dan membaca halaman demi halaman yang ada di diary itu. Sampai akhirnya dia tiba pada sebuah halaman yang ada fotonya. Mereka berdua, Gita dan Dika di dalam foto itu yang diambil selepas mereka menyanyi di pentas seni tempo hari itu. Di dalam foto itu, mereka terlihat begitu mesra. Masing-masing memegang microphone dan tangan mereka bertautan, bergandengan tangan. Di latar belakang, Doni dan Dodo sibuk memetik gitarnya, kepala mereka menunduk dan wajahnya nggak kelihatan. Lebih ke bagian belakang dari foto itu, Gita melihat teman-teman sekelasnya yang lain tersenyum. Ya, mereka tersenyum setelah bernyanyi dan mendengar tepuk tangan membahana dari seluruh warga sekolah yang hadir di aula. Semua Nampak begitu gembira. Tanpa sadar dari mata Gita mengalir butiran-butiran bening air mata. Hal yang biasa terjadi bila dia kembali membuka diary itu. Kembali mengingat semua peristiwa semenjak kedatangan Dika di kelasnya. Pentas seni yang melibatkan seluruh sekolah dan kebahagiaan yang muncul seusai mereka berdua bernyanyi saat melihat penonton tersenyum, tertawa, dan bertepuk tangan memuji dan menghargai dengan sangat penampilan mereka. Saat Gita kembali teringat berita yang didengarnya nggak lama setelah pentas seni usai. Yaitu berita tentang kecelakaan yang meninpa Dika selepas dia pulang dari sekolah lebih awal karena ada urusan lain. Motor Dika tertabrak truk yang melanggar lampu merah di sebuah perempatan, dan Dika langsung tewas di tempat kejadian. Gita hanya mendengar kabar terakhir mengenai senyuman di wajah Dika yang udah dingin. Barangkali ketika Dika meninggal dia teringat pentas seni di sekolah barunya yang begitu membahagiakan.

luna mau tidur

LUNA MAU TIDUR

“Emang gimana awalnya, loe ceritain deh dari awal” Dino penasaran dengan cerita Luna yang mulai hari ini harus tereliminasi dan dipensiunkan dari sekolahnya.
“Tau gue juga, masak cuma gara-gara tidur doang” sungut Luna.
“Lah….masak cuma gara-gara tidur doang ? yang jelas dong”
“Gini ceritanya………”Luna mulai bercerita.

Skul 9 Juni 2006/ 08:00 wib
Gasi tak terlihat seperti dulu, tak seperti waktu pertama kali menatapnya. Ini untuk fisiknya, rambutnya yang seakrang tertata rapi, giginya yang putih dengan gingsul, matanya yang selalu bercahaya, penuh harapan, dan hidungnya yang pesek, masih memperlihatkan wajahnya yang berkelas dan tampan. Darah dusun ibunya masih sangat terasa, sangat terlihat dari matanya yang dari dulu, masih terlihat sedikit besar.
Sahabatnya banyak yang kaget dengan perubahan dari style-nya Gasi yang sangat mencolok. Dia bukan lagi Gasi yang dulu, ini bukan Gasi yang dulunya dekil, dan urakan. Sekarang Gasi sudah berubah menjelma menjadi seorang cowok yang. Bukan lagi
Setiap berjalan ia coba melenggang berjalan dengan langkah yang berkelas, tak terlalu cepat dan tak juga terlalu pengantin, sorot matanya tajam menatap kedepan, siap membuat semua wanita takluk dengan matanya. Tapi senyum sumringahnya langsung terpancar ketika seorang sahabat lama, menyapanya. Dua tahun di Jepang membuat dia sangat fenomenal.
“Aku enggak nyangka, kamu sudah bisa dandan sekarang” Luna tersenyum, menyinggung penampilan Dino sekarang.
“Aku juga bingung kenapa bisa ya….aku berubah kayak gini, ternyata bener kata kamu dulu, lingkungan akan merubah kamu, thanks Luna”Dino memeluk Luna, salah satu sahabatnya yang paling setia menunggu kembalinya dari jepang.
“Seekor anak musang yang buas, dekil dan kotor, akhirnya melakukan kegiatan manusia, dalam hal membersihkan diri, ternyata bunga sakura juga bisa untuk merubah penampilan………”Suara yang tidak asing untuk Dino, sindirannya yang khas dan selalu berhasil menusuk dengan tajam.
“Sapi….., masih make kata-kata sok sastrawan juga loe……pa kabar Gy…?”Dino menyambut teman satu bangkunya waktu di SMP.
“Heee….he….fine….sih, tapi gue jadi ngerasa udah mulai ngerasa aura enggak enaknya nih, ketika seekor srigala datang dan mulai bisa mengendus pastilah banyak mangsa gue yang lepas gara-gara srigala ini”bahasa penuh makna, mengalir lepas dari bibir Xegy. Sebenernya sih maksud Xegy dia takut aja kalau cewek-cewek yang selama ini milik dia harus pergi karena ada seekor srigala dari jepang merebutnya.
“Makan aja sama loe sendiri….gue enggak level men sama orang indonesia….sueerr”Dino mendongakkan kepalanya keatas berlagak angkuh.
“Anjiing…………..loe….”Xegy berlari mengejar Dino yang sudah ngibrit duluan, Luna sendiri ia Cuma bisa menatap kekonyolan dua sahabatnya dengan senyum simpulnya.
LUNA…………………..BANGUUUUNN……………BANGUUUNN……..
“Ah….ngapain sih….ganggu orang lagi mimpi aja neh…..tanggung neh lagi mimpi enak……”Luna masih belum sadar dengan tingkahnya yang tidur dikelas, dan mengigau, yang membuatnya harus meninggalkan pelajaran pertama, pelajaran fisika.
“HUUU….orang cuma tidur doank enggak boleh….”Luna mencibir gurunya, dan melangkah gontai keluar kelas.
“Kamu bilang APA……..????”teriak Bu siska…guru duper killer.
“Eehhh…ehh…..enggak bu………PIISSS”Luna langsung ngibrit keluar.
“Dasar, anak gak tahu diuntung…..sudah disuruh belajar, malah tidur”gerutu Bu Siska kesal.
“Dagang kali untung………….”Luna nongol dari jendela, meledek gurunya.

LUNAAAA………………………………..
***

Tawa….sekelompok cewek kelas XI memenuhi ruang kantin yang cukup luas. Cewek-cewek kelas XII yang merasa dirinya sudah yang paling hebat melirik sinis kearah bangkunya Luna dan teman-temannya duduk sambil mencibirkan bibirnya yang ingin sekali rasanya dibikin dower.
“Masih kelas XI aja dah belagu sok ngenantangin guru”Sindir Fara sedikit mengeraskan suaranya.
“Masak…. ?”Luna mengindahkan omongan gak berkelas Fara, yang mengaku dirinya Miss Universe sekolah, padahal ngomong inggris aja gak lancara.
“Heiii….lagi lengkap nih……”Xegy langsung duduk dan ikut nimbrung dimeja Luna.
“Iyaa….jadi lebih karena loe duduk disini”Rika menatap ketus Xegy.
“Oopss…okay gue nyingkir”Xegy berdiri dan celingak-celinguk melihat tempat yang kosong.
“Yeee….udah duduk aja disini”Luna membela Xegy.
“Oh ya…..loe kenapa kok bisa tidur dikelas tadi…?”tanya Xegy sambil masih melirik Rika yang menatapnya sinis.
“Apa…loe….mau gue gampar ?”Rika mengangkat tangannya.
“Sorry say….piiisss”
“Udah napa….”Luna menengahi.

Bel masuk berbunyi……
“Nah….sudah bel tuh..masuk gih….”Luna memerintah teman-temanya.
“Loe sendiri ?” tanya Mika, mengerutkan keningnya.
“Gak ah……mau ke perpus aja, daa…duluan gue…., eh.jangan lupa kalau sudah pulang samperin gue di perpus ya…”Luna mengarahkan kedua kakinya kearah perpus yang terletak dua gedung dari kantin.
Sebenernya agak aneh memang meletakan ruang perpustakaan agak jauh dari kelas-kelas murid. Walaupun alasan sekolah cukup masuk akal, itu dilakukan agar suasana tidak terlalu bising.
Luna agak mempercepat langkahnya di koridor kelas XI C, karena Luna tahu disana ada bu siska yang sedang mengajar. So kita cari aman dulu, Luna agak sedikit membungkukkan badannya didepan kelas XI C, Luna membungkuk dan mempercepat langkahnya. Terus….terus….dan terus….lewat juga akhirnya. Luna mengelus dadanya tenang.
LUNAAA……………………” jerit Bu Siska, yang mengetahui tindakan Luna yang cabut dari pelajaran.
“GAAAKK…… MAUUUUUUUUUU………..” Luna langsung lari ngibrit entah kemana, dalam sekejap ia sudah tidak terlihat dikoridor sekolah menuju perpus.
“Kok lari……mau ngasiin buku tugas juga” Bu Siska cuma bisa menatap kosong kekoridor dan buku tugas Luna yang masih ia pegang.
Luna terus berlari menelusuri koridor sekolah dengan kecepatan penuh, melewati ruang kepala sekolah, ruang BP, lapangan basket, gedung olahraga dan akhirnya berakhir di kantin dan langsung memesan teh botol dingin.
“ini nikmatnya sekolah” ucap Luna masih terengah-engah.
Tapi sayang nikmat sekolah yang dia maksud datang lagi, kali ini bukan ibu Siska yang lebih mirip tante-tante kiler yang didepannya. Amiiiiin………….banget memang karena yang didepannya bukan tante itu, tapi………!!! O M G, ini lebih gawat” Luna langsung menaruh botol kenikmatan pelepas dahaganya. Mengangkat kaki kanannya…..dan……..KABUR……………….TIDAK…………………..AMPUN…….Pak DULLOH………..piiiiiiiissssss………………….
Luna langsung kembali berlari kocar-kacir, kembali berolahraga siang. Memutar lapangan basket, memutari kembali parkir siswa, bebelok ke parkir guru, melewati pepustakaan yang ingin ia kunjungi tadi dan sekarang tidak. Dan terus berlari tanpa melihat belakang, trus berlari dengan menutup mata, terus berlari menghindar kematian (Walau itu sebenarnya enggak mungkin) dan terus berlari…..terus…..terus……….terus…..semakin jauh…jauh……lurus kedepan…………
BRAAK……….aaahh………….
“Gila loe ye……..pake mata dong” satu makian yang langsung membuat Luna tersontak. Walaupun matanya tetap terus menatap lantai koridor, mengatur napasnya yang sudah kocar ancur, mengumpulkan kembali tenaganya yang telah hilang bersama derap kakinya yang melaju kencang, dan mengatur kata-katanya untuk dimuntahkan dan memaki kembali bajingan tengik yang telah menghalangi jalannya. Hingga akhirnya Luna harus tertangkap oleh Pak Dulloh guru matematika dengan kumis tebal ala Pak Raden dan tangan kekar ala Ade Rai, dengan mudah menarik kerah baju Luna hingga ia terangkat dari duduknya.
“Mampus…belek aja sekalian Pak….” Cowok ngehe’ itu malah memanas-manasi suasana.
“Leher kamu yang saya belek” Pak Dulloh bukannya mendengar omongan Cowok brengsek itu, eh….malah memaki balik.
“Mang….enak…..” Luna tersenyum sinis.
“Bodo…” cowok sialan itu, langsung berbalik dan melangkah pergi.
“Awa.loe………gue matiin…entar……” maki Luna sadis.
“Kamu yang akan mati duluan” Luna langsung diseret Pak Dulloh keruang BP, dimana itu tempat ia dan komplotannya berkumpul. Komplotan yang semuanya orang berkumis dan berbadan kekar, hee….hee….maklum rata-rata dari mereka kerajingan fitnes.
“Yah……….ini lagi, enggak ada yang punya penyakit yang laen apa sekolah kita ini” ledek Pak Sukro, penjahat kelamin yang sukanya dengan daun muda menyindir Luna.
“hhhmm……belum tahu aja loe siapa gue….loe berlima yang badanya segede gentong gajah ini juga gue lawan fuck….bacot loe semua bau kalau ngatain gue” geram Luna, yang enggak terima dianggap enteng.
Dua jam sudah Luna didalam ruang ngehe’ yang enggak ada sejuk-sejuknya. Kacrutnya didalam dia Cuma disuruh duduk doank tanpa suguhan minum dan makanan yang cukup buat menambal perutnya yang kehabisan tenaga, habis joging melelahkan tadi. Hehee…..hee…joging katanya dasar geblek.
Dalam hitungan tiga, dengan modal nekat dan sok berani, Luna berdiri dari duduknya, mengendap-endap…….dan KABUUUURRR……….
CIIIITTT……”Luna berhenti dari larinya.
“Loh…..kok enggak ada yang ngejar”Luna jadi bingung dan mengendus-endus lantai. “Enggak ada bau bajingan tengik itu”
Luna lalu berjalan kembali keruang pengap tai itu, mengintip, celingak-celinguk.
“Anjriiitt…..sialan banget, pada tidur….kalau tau dari tadi dah…gue cabutnya” Luna berjalan santai, tapi sampai dikelasnya……..
“Ngehe’…….dah pada balik…..?” Luna mengerutu sendiri.
Langkah gontainya menelusuri koridor sekolah yang sudah sepi…sepi sekali, cuma Pak Saha dan Ibu Eta, sepasang suami istri penjaga sekolah yang ia temui. Di parkir guru, Luna melihat gerombolan guru yang enggak manusiawi.
“Pulang sendirian ?” sebuah kalimat yang dalam dan langsung menusuk hati.
“Sialan…..” sungut Luna, langsung mempercepat langkahnya.
Dihalte
Kejadian hari ini sangat melelahkan buat Luna, sebuah kesialan dibalik hobinya yang sering membangkang dan berlari. Semenjak ia menemukan hobinya tidur dikelas dan melawan guru betisnya kini tjadi terasa dua,tiga,empat sampai sepuluh kali lipat lebih gede.
Sampai di Halte, Luna langsung menghempaskan tubuhnya di bangku halte yang keras terbuat dari besi yang mulai berkarat.
“Fhuu….letih, capek, lelah….enggak ada yang jual air lagi” keluh Luna memijit-mijit betis kakinya yang sudah membesar.
“Haus….?” Seseoran menyodorkan sebotol air mineral yang sangat diharapkan Luna.
“Makasih….” Jawab Luna tanpa menoleh sedikitpun ke yang empunya.
“Makanya…jadi cewek yang lembut dikit…jangan suka berbuat yang nyeleneh”
“Loe belum….balik Xeg….”Luna mengalihkan pembicaraan. Ternyata tanpa perlu melihat siapa orangnya dari suaranya aja Luna sudah tahu kalu itu Xegy.
“Dibilangin malah ngalihin pembicaraan, udahlah…gue duluan”Xegy langsung menyetop bus.
“Eh….gila….tunggu”Luna langsung mengejar bus-nya.
Bus yang penuh sesak, dan bau yang menyengat. Wuiiihh…apalagi kalau bukan dari ketek-ketek para penumpang yang pada enggak pake deodorant…(Haaahhhhaaa…mungkin). Tapi rasa sesak dan bau ketek itu enggak akan pernah bisa menghentikan kegilaan Luna dan Xegy akan angkutan yang ini, coz penuh tantangan dan bisa melatih pernapasan karena kita akan menahan napas dari awal naek sampe turun yang penting murah cuy. BUSWAY…??? NO Way…..gak da tantangannya plus mahal, kan kantong anak sekolah terbatas tapi enggak buat mereka yang tinggal di perumahan elite sama apartemen.
“Gila…loe…bisa naek juga” sindir Xegy kena.
“Loe kira Luna Prisma, baru kali ini naik bus” Luna langsung loncat keluar.
“LUNAAA………”teriak Xegy, walau akhirnya Luna enggak apa-apa.
Luna langsung, berlari lagi menuju rumahnya, kayaknya sih lari sudah jadi kegiatan favoritnya setelah kejadian di skeolahnya tadi.
Balik lagi ke Xegy, mahluk satu ini enggak langsung balik kerumahnya, tapi dia malah mampir dulu kerumah temennya, cowok….(Haa….cowok ?). tapi entar dulu jangan mentang-mentang dia mau kerumah cowok bukan berarti dia homo……..xegy mau kerumah temen lamanya.
“Misiiiiiiiii………”teriak Xegy, setelah sampai dan berada tepat didepan pagar, rumah temennya.
“Yaa..ya…bentar”suara sautan dari dalam rumah, terdengar jelas dan cukup cempreng.
“Dino mana Bi ?”
“Ada dikamar langsung masuk aja”
“Ya ialah…emang siapa yang mau diem disini, panas tahu” Xegy malah ngeledek Bi Sarah dan langsung ngibrit masuk, takut Bi Sarah nyerang balik ( Dalam kasus ini, kenapa disetiap sebuah tulisan sinetron, novel dan film selalu saja nama pembantu suatu keluarga itu jelek dan agak kampungan, so’ kita rubah neehh, coz enggak semua pembantu namanya jelek).
“Huu…dasar anak muda jaman sekarang endak tahu sopan santun, wes geblek kabeh” gerutu Bi Sarah sendirian.
“Makanya saya sekolah biar enggak geblek……”Xegy yang mendengar gerutuan Bi Sarah langsung menyahut.
Dino ? dalam mimpi Luna kita pernah membahasnya. Yup …Dino adalah sahabat dekat dari Xegy dan Luna dari SMP, Dino memang benar-benar berubah dalam hal penampilannya sekarang, bodo amat style kayaknya sudah dia buang jauh-jauh. Penampilannya sekarang jepang banget, paduan baju dengan warna-warna terang dan matanya yang sedikit sipit hampir membuatnya sangat mirip dengan orang jepang, itupun akan berhasil kalau saja kulitnya sedikit lebih putih, tidak kuning langsat seperti sekarang.
“Luna mana ?”tanya Dino setelah Xegy berada didalam kamarnya.
“Tahu dia tadi langsung balik, padahal udah gue panggil udah gue tungguin, eh malah tadi langsung loncat aja dari bus”jelas Xegy rinci banget.
“Wuiihh…tambah gila aja tuh anak, masi tukang tidur gak tuh bocah ?” Dino, sepertinya kangen dengan kebodohon dan kegilaan Luna.
“Halah…gak usah komentarin dia, sekarang yang penting mana oleh-oleh gue ?”Xegy langsung menuju sebuah bungkusan besar yang ada didekat lemari Dino. Tangan geratakan Xegy langsung membongkar isi bungkusan itu, tapi tak ada apa-apa yang ia temukan Cuma puluhan pakaian kotor, mungkin bekas Dino waktu dijepang, hueekks…baunya, Xegy langsung memasukkan lagi baju super bau itu.
“Makanya tangan tuh jangan geratakan” Dino ketawa sendiri melihat Xegy menahan bau dari baju yang sudah ia pendam selama berminggu-minggu.
“Tai…lu”
***
Skul 10 Juni 2006/ 08:30

Mendung menyelimut, langit mulai hitam pekat tapi hujan tetap saja belum kunjung datang. Melati di taman sekolah sudah tetunduk layu menanti hujan. Luna….., dimana Luna sekarang ? bingung, semua orang dikelasnya sibuk mencari satu buah sontoloyo yang hilang ini, tasnya sih ada…..tapi entah orangnya kemana, dari awal pelajaran tadi sampe sekarang sudah istirahat kedua penjahat kelas kakap itu belum juga ditemukan batang hidungnya.
Karena ini sebuah rahasia, tak ada satupun dari siswa kelas Luna yang melapor ke guru. Karena hampir semua teman Luna tahu, kalau kasus ini dilaporkan habislah riwayat Luna, semua kisah dan kasih kejahatan dan kebadungannya akan berakhir.
“Wooii…emang enggak ada yang ngeliat Luna kemana apa ?”Xegy yang bukan penghuni kelas Luna, langsung masuk dan uring-uringan dikelas orang.
“HUuuuu………….” Hampir seisi kelas menyoraki Xegy.
“Pada kampret lu ye…..gue tanya baek-baek” Xegy langsung ngibrit pergi setelah ia memaki sesaat penghuni kelas, karena ia tahu beberapa detik ia terlambat kabur, bisa hancur mukanya. Dikejahuan Xegy sedikit mendengar maki-makian para setan remaja kelasnya Luna.
“Amin….Amin, untuk gue keburu pergi” Xegy bersyukur dengan tindakan cepatnya.
Tapi kemana Luna sekarang ? gila juga, manusia yang enggak bisa diem kayak dia bisa ngilang, letak gilanya sampe satu sekolah enggak ada yang tahu, biasanya sih tanya sama satu orang anak juga pasti ada yang melihat jejaknya. Tapi, sekarang kemana bocah tengik itu.
“Kalau aja sekolah ini ada anjing pelacak, pasti sudah ditemukan monyet sialan itu” sungut Xegy kesal.
Bel pertanda kalau sekolah telah selesai, telah berbunyi, tapi Luna masih saja belum ada yang menemukannya. Sebagian dari temannya yang sudah putus asa, memutuskan untuk pulang, karena mereka capek dengan tingkah Luna yang gak jelas kayak gini. Tapi sebagian lagi masih ada yang tetap mencari disemua tempat yan paling mungkin untuk dilakukan untuk tidur. Kenapa tempat untuk tidur ? coz, ini dari pengalaman, Luna biasanya kalau ngilang kayak gini pasti dia pergi buat cari tempat untuk tidur, apa lagi kalau bukan untuk itu.
Karena ini sudah sangat gawat, akhirnya Bingo, sang ketua kelas Luna, melaporkan semua ini ke guru dan wali kelas. Pencarian pun semakin gencar, hampir semua penghuni sekolah dan instansi terkait ( apa seehh…GJ ) ikut membantu, enggak ketinggalan Pak Saha dan Bu Eta turut membantu mencari. Kayaknya memang sudah benar-benar gawat.
Suhu udara semakin panas, sudah beberapa botol air mineral telah diminum oleh Cika teman sebangku Luna, yang masih tetap betah mencari jejak Luna. Rasa penasaran dan kesal yang sudah sampai diatas normal, yang membuat Cika tetap melakukan penelusuran jejak hantu cilik itu.
“Loe ngapain sih, lagi dapet ya ?” selidik Xegy, sambil menyipitkan sedikit matanya, ia melihat dari tadi Cika merapatkan kakinya dan terus memegangi pinggangnya.
“Kurang ajar loe, belum awal bulan tahu, gue kan dapetnya tiap awal bulan” Cika menyangkal tuduhan Xegy.
“Oohhh….jadi tiap awal bulan toh dapetnya, terus itu ngapain ?”
“Aku mau pipis……..nih” ucap Cika sok dibikin manja.
“Dasar idiot, ya ketoilet sana, ngapain loe tahan-tahan kena kanker rahim tar loh” ucap Xegy, menakut-nakuti Cika.
“Waaaahhh….gitu ya, yo wes gue ketoilet dulu ya…..”Cika langsung berlari kecil menuju toilet sekolah, enggak kebanyakan toilet sekolah lain, yang bau dan kotor. Justru ditoilet sekolah ini semua terlihat bersih dan nyaman, wangi lavender selalu tercium dari gantungan pewangi ruangan toilet ini, dan ini juga berlaku untuk toilet cowok.
AAARRGGGGGHHHHHHHH……………………..XEGGGGYYY………….
Terdengar teriakan Cika dari dalam toilet, yang membuat semua team ekspedisi pencarian jejak Luna berhamburan menuju toilet.
“Haahhaaa….mampus loe kepeleset pasti” Xegy, tertawa dalam hati. Ia lalu berjalan santai menuju toilet.
Sampai didalam toilet sepertinya perkiraan Xegy benar, banyak kru team ekspedisi pencarian jejak Luna yang ketawa ngakak, tapi, anehnya kok Pak Memet wali kelas Luna malah melotot, sampai semua retina, air matanya mau keluar. Begegas Xegy menerobos kerumunan kru-kru.
“Anjriiiiitttt………” ucap Xegy terperangah kaget. Didalam toilet diatas closet duduk, terlihat Luna sedang tidur dengan pulasnya, parahnya kayaknya ini semua sudah terencana, karena dibelakang kepalanya ada sebuah bantal tidur. Bener-bener edan.
“Cepet…bangunin” Pak Memet, mendorong Xegy kedalam toilet. Sebelumnya Xegy menyuruh semua orang untuk menyingkir dan keluar dari dalam toilet, lalu Xegy meneluarkan Super TOA dari tasnya, menarik napas dalam-dalam dan…….
LUUUUUUUNNNNAAAAAAAAAA………………….
BAAAAANGUUUUUUUUUUNNN………………
Semua urat Xegy keluar, kuping berdengung, dan jantung ikut berdetak kencang.
“WHhoooaaaaa……dah balik sekolah cuy” Luna membuka matanya.
“Anjriit…loe, hati-hati aja loe diluar ada Pak Memet, kayaknya riwayat loe berakhir hari ini” Xegy berlalu keluar toilet, diluar terlihat semua kru Team Ekspedisi Pencarian Jejak Luna dan enggak ketinggalan Pak Memet, meniup-niup kuping mereka. Xegy Cuma tertawa geli melihatnya dan berlalu untuk pulang, sambil mencopot pengedap suara dari kupingnya.
***
“Gitu….tuh ceritanya” Luna menyudahi ceritanya.
“Loe aja yang kebangetan, gila loe enggak ilang-ilang tahu gak” Dino, tertawa geli, dan iapun meninggalkan Luna sendirian dikamarnya, sambil merutuk Dino karena menertawakannya.
“Tapikan sekarnag lagi Piala Dunia jadi wajar dong, gue ngatuk berat” Luna masih mau menang sendiri.
“Yaa….tetep aja loe kebangetan” sahut Dino dari ujung pintu kamar.

uups. . . .salah curhat

  • Malam ini ciko duduk dikursi panas disebuah kafetaria,ia sedang berbicara empat mata dengan "NIA" cewek yang sudah menjadi pacarnya selama sebulan .kali ini ia mendapat kejutan yang sangat mengejutkan."kita putus !"ucap nia denga nada santai. "putus ,kok putus , sih ?desah cilo yang tadinya menyemburkan seisi mulutnya kemeja berlapis kaca."aku mau putus aja ,"sahutnya."tapi salah aku apaan ? tanya tio masih berkeras."banyak ! jawab nia."contohnya ?ciko terus ingin tau."kamu itu kekanak-kanakan.ciko menggelengkan kepalanya"masa sih ? tanyanya dengan wajah bingung."iya dan karena itu kamu selalu ngebuat aku malu ! katanya dengan sinis."emang gitu,ya? ciko menggaruk-garuk kepalanya.nia bangkit dari kursi"pokoknya kita putus ! menghentakan tangannya ke meja,lalu berbalik dan berjalan meninggalkan ciko yang wajahnya tak karuan. kos-kosan ciko dipenuhi dengan tisu yang menggulung,tapi banjir air matanya belum kering juga,tak puas akhirnya dia melemparkan semua benda didekatnya kesgala penjuru."aduh ! ada suara dari arah jam tiga."charlie bukannya lo kerumah nenek loe ? tanya ciko kepada temanya yang barusan ia lempar dengan jam waker tepat dikepalanya."gak jadi nenek gue udah sembuh ,"sahutnya sambil mengusap kepalanya."hah,kok bisa ? tanya ciko."mana gue tau ,"jawabnya."uhh..! desah ciko. menghempaskan tubuhnya kesofa didepan televisi."eh lo apain kosan kita jadi amburadul gini ?tanyanya. sambil menukikan pandangannya kebenda yang tepat ada dikakinya."cuma sedikit renovasi ,"jawabnya sambil menyalakan tv."renovasi apaan kayak begini ?desahnya dengan jengkel."ini tren terbaru penataan ruangan ." "dasar loe ,setress !!! ini lagi jam waker kesayangan gue." jam butut kayak gitu juga,"ucap ciko bersandar lemas."enak aja jam ini sudah punya banyak jasa ngebangunin kita sekolah !" "udah dech gak usah bahas itu ,gue lagi kesel ! tuntutnya."kenapa loe putus ama nia ,ya ? hingga membuat mata ciko melotot kearahnya."dari mana loe tau ? tanya ciko." ya ,iyalah kan loe selalu mewek klo di putusin cewek ." "huh jawaban lo ngejengkelin !kata ciko menekuk wajahnya."kali ini alasannya ,apalagi curhat aja ama gue ! memberi usul."dia bilang gue kekanak-kanakan ." lalu loe ngerasa gak ? berjalan dan duduk disebelah ciko."dikit."sahutnya."gue kan pernah bilang nia tuh gak baik buat loe ! kata charlie."iya sih, tapi nia itu cantik ,imute, lucu."lalu lo pikir loe atau nia ang salah sekarang? tanyanya."mungkin nia ,mungkin juga gue ! jawabnya ragu."hah,manknya lo juga ngerasa salah ? charlie heran."dikit." "dari tadi dikit-dkit mulu ,yang bener apaan ? melototi ciko."iya,gue yang salah ! lagi-lagi menekuk wajahnya."baguslah,"ucapnya sangat pelan."heh , apa kata loe tadi ? ciko mendengar pelan suara tadi."maksud gue bagus, kalo elo ngalah demi nia,"menggeserkan pandangannya."oh gitu," mengangguk-anggukan kepalanya."jadi intinya lo ngakuin sifat kekanak kanakan loe ,nih ?kata charlie mengangkat sebelah alisnya."ya,gitu dech ." "manknya loe rela nia sama orang lain ? tanyanya."ya,kalo nia bahagia,kenapa enggak ,"ucapnya."gak gue sangka lo bijak juga." "yee, baru nyadar loe??? sahut ciko berhenti menekuk wajahnya.ada suara ketukan dari arah pintu ,ciko bangkit dari kursi dan setelah ia membuka pintu ,ia kaget ternyata itu nia mantan pacarnya yang ngemutusin dia kemarin."hai,ciko !" sapanya lembut."sudahku kira kamu pasti kangen sehari aja gak ketemu aku," katanya dengan grnya."maaf tapi aku kesini bukan buat nemuin kamu." "jangan boong dech manknya siapa lagi klo bukan aku ? masih yakin akan dirinya.tiba-tiba charlie keluar."hai,sayang !"sapa nia padanya."sayang ??? ciko ternganga"sejak kapan kalian...???? "jadian maksud loe ? oh,ya gue lupa, gue kesini mau minta restu lo." "restu apaan ? ia semakin bingung."yang barusan kita obrolin ,masa loe lupa ,"sahutnya."jadi loe...???? "etzz...jangan marah lo kan dah setuju barusan !"ucapnya dengan senyum.ciko tak bisa berkata lagi ia termakan omongannya sendiri."and lo tenang aja gue bakal buat nia bahagia kok !"katanya.tapi....." ciko kalah telak."udah simpan aja tapi loe itu,gue mau ngedate ama nia dulu,lo jaga kosan kita yah!! berjalan lalu menggandeng tangan nia,ia berhenti sejenak lalu mengedipkan sebelah matanya pada ciko.sedangkan ciko hanya terdiam tapi dipikirannya ,ia berteriak habis-habisan,karna tertipu oleh curhat konyol charlie itu.

Kata – kata Mutiara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia :

Smile is the shortest distance between two people.
Senyum adalah jarak yang terdekat antara dua manusia .
Real power does not hit hard , but straight to the point.
Kekuatan yang sesungguhnya tidak memukul dengan keras , tetapi tepat sasaran

You have to endure caterpillars if you want to see butterflies. (Antoine De Saint)
Anda harus tahan terhadap ulat jika ingin dapat melihat kupu-kupu. (Antoine De Saint)

Only the man who is in the truth is a free man.
Hanya orang yang berada dalam kebenaranlah orang yang bebas.

Every dark light is followed by a light morning.
Malam yang gelap selalu diikuti pagi yang tenang.

Laughing is healthy, especially if you laugh about yourself.
Tertawa itu sehat, lebih-lebih jika mentertawakan diri sendiri.

The danger of small mistakes is that those mistakes are not always small.
Bahayanya kesalahan-kesalahan kecil adalah bahwa kesalahan-kesalahan itu tidak selalu kecil.
Kesalahan kecil bisa mengakibatkan kesalahan yang lebih besar. Bersamaan dengan kesalahan itu, persoalannya bisa menjadi besar pula. Maka kesalahan kecil pun harus segera dibetulkan.

To be silent is the biggest art in a conversation.
Sikap diam adalah seni yang terhebat dalam suatu pembicaraan.

The worst in the business world is the situation of no decision. (Napoleon).
Yang terparah dalam dunia usaha adalah keadaan tidak ada keputusan. (Napoleon).

Dig a well before you become thirsty.
Galilah sumur sebelum Anda merasa haus.

Good manners consist of small sacrifices.
Sopan – santun yang baik yang terdiri dari pengorbanan –pengorbanan kecil.

IDEAS ARE ONLY SEEDS, TO PICK THE CROPS NEEDS PERSPIRATION.
GAGASAN-GAGASAN HANYALAH BIBIT, MENUAI HASILNYA MEMBUTUHKAN KERINGAT.

LAZINESS MAKES A MAN SO SLOW THAT POV ERTY SOON OVERTAKE HIM.
KEMALASAN MEMBUAT SESEORANG BEGITU LAMBAN SEHINGGA KEMISKINAN SEGERA MENYUSUL.

THOSE WHO ARE ABLE TO CONTROL THEIR RAGE CAN CONQUER THEIR MOST SERIOUS ENEMY.
SIAPA YANG DAPAT MENAHAN MARAHNYA MAMPU MENGALAHKAN MUSUHNYA YANG PALING BERBAHAYA.

KNOWLEDGE AND SKILLS ARE TOOLS, THE WORKMAN IS CHARACTER.
PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN ADALAH ALAT, YANG MENENTUKAN SUKSES ADALAH TABIAT.

A HEALTHY MAN HAS A HUNDRED WISHES, A SICK MAN HAS ONLY ONE.
ORANG YANG SEHAT MEMPUNYAI SERATUS KEINGINAN, ORANG YANG SAKIT HANYA PUNYA SATU KEINGINAN

A MEDICAL DOCTOR MAKES ONE HEALTHY, THE NATURE CREATES THE HEALTH. (Aristoteles)
SEORANG DOKTER MENYEMBUHKAN, DAN ALAM YANG MENCIPTAKAN KESEHATAN. (Aristoteles)

THE MAN WHO SAYS HE NEVER HAS TIME IS THE LAZIEST MAN.(Lichtenberg)
ORANG YANG MENGATAKAN TIDAK PUNYA WAKTU ADALAH ORANG YANG PEMALAS.(Lichterberg)

POLITENESS IS THE OIL WHICH REDUCES THE FRICTION AGAINST EACH OTHER. (Demokritus).
SOPAN-SANTU ADALAH IBARAT MINYAK YANG MENGURANGI GESEKAN SATU DENGAN YANG LAIN. (Demokritus).

A DROP OF INK CAN MOVE A MILLION PEOPLE TO THINK.
SETETES TINTA BISA MENGGERAKAN SEJUTA MANUSIA UNTUK BERFIKIR.

WE CAN TAKE FROM OUR LIFE UP TO WHAT WE PUT TO IT.
APA YANG BISA KITA DAPAT DARI KEHIDUPAN KITA TERGANTUNG DARI APA YANG KITA MASUKKAN KE SITU.

REAL POWER DOES NOT HIT HARD, BUT STRAIGHT TO THE POINT.
KEKUATAN YANG SESUNGGUHNYA TIDAK MEMUKUL DENGAN KERAS, TETAPI TEPAT SASARAN

IF YOU LEAVE EVERYTHING TO YOUR GOOD LUCK, THEN YOU MAKE YOUR LIFE A LOTTERY.
JIKA ANDA MENGANTUNGKAN DIRI PADA KEBERUNTUNGAN SAJA, ANDA MEMBUAT HIDUP ANDA SEPERTI LOTERE.

REAL POWER DOES NOT HIT HARD, BUT STRAIGHT TO THE POINT.
KEKUATAN YANG SESUNGGUHNYA TIDAK MEMUKUL DENGAN KERAS, TETAPI TEPAT SASARAN.

BEING CAREFUL IN JUDGING AN OPINION IS A SIGN OF WISDOM.
KEHATI-HATIAN DALAM MENILAI PENDAPAT ORANG ADALAH CIRI KEMATANGAN JIWA.

YOU RECOGNIZE BIRDS FROM THEIR SINGGING, YOU DO PEOPLE FROM THEIR TALKS.
BURUNG DIKENAL DARI NYANYIANNYA, MANUSIA DARI KATA-KATANYA.

Kata – kata Mutiara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia :

Smile is the shortest distance between two people.
Senyum adalah jarak yang terdekat antara dua manusia .
Real power does not hit hard , but straight to the point.
Kekuatan yang sesungguhnya tidak memukul dengan keras , tetapi tepat sasaran

You have to endure caterpillars if you want to see butterflies. (Antoine De Saint)
Anda harus tahan terhadap ulat jika ingin dapat melihat kupu-kupu. (Antoine De Saint)

Only the man who is in the truth is a free man.
Hanya orang yang berada dalam kebenaranlah orang yang bebas.

Every dark light is followed by a light morning.
Malam yang gelap selalu diikuti pagi yang tenang.

Laughing is healthy, especially if you laugh about yourself.
Tertawa itu sehat, lebih-lebih jika mentertawakan diri sendiri.

The danger of small mistakes is that those mistakes are not always small.
Bahayanya kesalahan-kesalahan kecil adalah bahwa kesalahan-kesalahan itu tidak selalu kecil.
Kesalahan kecil bisa mengakibatkan kesalahan yang lebih besar. Bersamaan dengan kesalahan itu, persoalannya bisa menjadi besar pula. Maka kesalahan kecil pun harus segera dibetulkan.

To be silent is the biggest art in a conversation.
Sikap diam adalah seni yang terhebat dalam suatu pembicaraan.

The worst in the business world is the situation of no decision. (Napoleon).
Yang terparah dalam dunia usaha adalah keadaan tidak ada keputusan. (Napoleon).

Dig a well before you become thirsty.
Galilah sumur sebelum Anda merasa haus.

Good manners consist of small sacrifices.
Sopan – santun yang baik yang terdiri dari pengorbanan –pengorbanan kecil.

IDEAS ARE ONLY SEEDS, TO PICK THE CROPS NEEDS PERSPIRATION.
GAGASAN-GAGASAN HANYALAH BIBIT, MENUAI HASILNYA MEMBUTUHKAN KERINGAT.

LAZINESS MAKES A MAN SO SLOW THAT POV ERTY SOON OVERTAKE HIM.
KEMALASAN MEMBUAT SESEORANG BEGITU LAMBAN SEHINGGA KEMISKINAN SEGERA MENYUSUL.

THOSE WHO ARE ABLE TO CONTROL THEIR RAGE CAN CONQUER THEIR MOST SERIOUS ENEMY.
SIAPA YANG DAPAT MENAHAN MARAHNYA MAMPU MENGALAHKAN MUSUHNYA YANG PALING BERBAHAYA.

KNOWLEDGE AND SKILLS ARE TOOLS, THE WORKMAN IS CHARACTER.
PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN ADALAH ALAT, YANG MENENTUKAN SUKSES ADALAH TABIAT.

A HEALTHY MAN HAS A HUNDRED WISHES, A SICK MAN HAS ONLY ONE.
ORANG YANG SEHAT MEMPUNYAI SERATUS KEINGINAN, ORANG YANG SAKIT HANYA PUNYA SATU KEINGINAN

A MEDICAL DOCTOR MAKES ONE HEALTHY, THE NATURE CREATES THE HEALTH. (Aristoteles)
SEORANG DOKTER MENYEMBUHKAN, DAN ALAM YANG MENCIPTAKAN KESEHATAN. (Aristoteles)

THE MAN WHO SAYS HE NEVER HAS TIME IS THE LAZIEST MAN.(Lichtenberg)
ORANG YANG MENGATAKAN TIDAK PUNYA WAKTU ADALAH ORANG YANG PEMALAS.(Lichterberg)

POLITENESS IS THE OIL WHICH REDUCES THE FRICTION AGAINST EACH OTHER. (Demokritus).
SOPAN-SANTU ADALAH IBARAT MINYAK YANG MENGURANGI GESEKAN SATU DENGAN YANG LAIN. (Demokritus).

A DROP OF INK CAN MOVE A MILLION PEOPLE TO THINK.
SETETES TINTA BISA MENGGERAKAN SEJUTA MANUSIA UNTUK BERFIKIR.

WE CAN TAKE FROM OUR LIFE UP TO WHAT WE PUT TO IT.
APA YANG BISA KITA DAPAT DARI KEHIDUPAN KITA TERGANTUNG DARI APA YANG KITA MASUKKAN KE SITU.

REAL POWER DOES NOT HIT HARD, BUT STRAIGHT TO THE POINT.
KEKUATAN YANG SESUNGGUHNYA TIDAK MEMUKUL DENGAN KERAS, TETAPI TEPAT SASARAN

IF YOU LEAVE EVERYTHING TO YOUR GOOD LUCK, THEN YOU MAKE YOUR LIFE A LOTTERY.
JIKA ANDA MENGANTUNGKAN DIRI PADA KEBERUNTUNGAN SAJA, ANDA MEMBUAT HIDUP ANDA SEPERTI LOTERE.

REAL POWER DOES NOT HIT HARD, BUT STRAIGHT TO THE POINT.
KEKUATAN YANG SESUNGGUHNYA TIDAK MEMUKUL DENGAN KERAS, TETAPI TEPAT SASARAN.

BEING CAREFUL IN JUDGING AN OPINION IS A SIGN OF WISDOM.
KEHATI-HATIAN DALAM MENILAI PENDAPAT ORANG ADALAH CIRI KEMATANGAN JIWA.

YOU RECOGNIZE BIRDS FROM THEIR SINGGING, YOU DO PEOPLE FROM THEIR TALKS.
BURUNG DIKENAL DARI NYANYIANNYA, MANUSIA DARI KATA-KATANYA.

kata-kata indah

Kata-Kata Indah

Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, kerana kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita.

Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita dapat mendengarkan semuanya dari dua buah sisi. Untuk berupaya mengumpulkan pujian dan kritikan dan memilih mana yang benar dan mana yang salah.

Kita lahir dengan otak di dalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin mana pun kita, kita tetap kaya. Kerana tidak akan ada seorang pun yang dapat mencuri otak kita, fikiran kita dan idea kita. Dan apa yang anda fikirkan dalam otak anda jauh lebih berharga daripada emas dan perhiasan.

Kita lahir dengan 2 mata dan 2 telinga, tapi kita hanya diberi 1 buah mulut. Kerana mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa menggoda, dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan. Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya.

Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh di dalam diri kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.

Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemui cinta yang jauh lebih indah.

Selasa, 29 Desember 2009

rahasiaa kecantikan wnta

Rahasia kecantikan kulit wanita

Kulit putih memang dambaan kaum hawa,serasi dengan baju-baju dikenakan menjadi pusat perhatian kaum adam.Tidak sulit sebenarnya merawat kulit agar tetep cantik,mulus,putih dan mempesona.Jawabnya hanya perawatan.Benua Asia,adalah benua kaya suku budaya dan warna kulit.Daratan cina dan jepang terkenal dengan kulit putih bersihnya dan kecantikan kulitnya.Banyak yang berfikir mungkin memmakai kosmetik klas mahal untuk mempertahankan dan merawat kulit indah meraka.Jangan salah,Wanita jepang ternyata lebih menyukai perawatan kulit tradisional seperti nenek moyang bangsa kita dulu.Mau tau resep cantik kulit mereka?Mari kita intip tips dibawah ini.

Dengan beras Ketan,merupakan bahan yang mudah didapat dipasaran dan harganya yang relatif murah.Bahan ini ternyata juga digemari wanita jepang dalam merawat kulit.Kok bisa?banyak yang mungkin tidak percaya!makanya di buktikan dan ikuti caranya pastinya agar lebih mudah dan faham.Cukup dengan menggunakan beras ketan dan kain,,,dsb,ditambah ketelatenan dan kesabaran.Anda mau meniru wanita jepang merawat kulit kulit dengan harga ekonomis dan praktis.

Caranya:

  • Beras ketan boleh dicuci dulu sebentar dan tiriskan.Tapi jangan sampai direndam air,tujuannya hanya untuk menghilangkan kotoran dari beras ketan itu.
  • Masukkan beras ketan dalam kantong yang terbuat dari kain satin dan katun.
  • Tumbuk berlahan-lahan beras tersebut hingga halus.perhatiaan,jangan sampai rusak kantongnya yang bisa menyebabkan beras berhamburan kemana-mana.
  • Celupkan kantong berisi beras tumbuk kedalam air hangat.Diamkan selama berapa menit,atau hingga berubah seperti air susu.
  • Usapkan kantong berisi beras secara merata.Diamkan hingga 2 mnit.
  • Bilas dengan air dingin.
  • Usai pemakaian,jangan buang kantong beras tersebut.karena tumbukan beras ini bisa dipakai hingga 2-3 kali pemakaian.Cukup menggantungkan kantong ditempat yang kering dan jauhkan dari sinar matahari.
  • Selamat mencoba.

Nah untuk para suami atau cwok yang punya cwek make up full,cara ini mending dikasih tau disamping tidak merogoh kantong terlalu dalam.Kulit juga terkesan juga akan tampil lebih alami tanpa polesan.bagi para wanita ingatlah make up boleh,alangkah mulianya jika menoleh dengan cara-cara simple hasil tinggi.Belajar hidup hemat asal terawat makin jadi hidup lebih hidup.Benar gak?

setia itu apa

Rabu, 30-12-2009 RSS Feed

Rahmah Hasjim

Setia Itu Apa Sih?

Jumat, 16-11-2007 15:22:06 oleh: Rahmah Hasjim
Kanal: Opini

Setia Itu Apa Sih?

Seorang sahabat, sebut saja si Ganteng, bercerita pada saya bahwa malam minggu lalu dia melewatkan waktu dengan seorang perempuan yang dikenalkan kakaknya dengan harapan mereka berjodoh. Ganteng dan perempuan itu makan di sebuah resto lalu ngobrol hingga tengah malam. Perempuan ini kuliah tingkat akhir kedokteran gigi di UI, wajahnya mirip Sarah Azhari dengan body lebih kurus, orang Sulawesi dan ayahnya anggota DPRD dan tak pernah berniat praktek diluar Jakarta. Di Jakarta dia kost dan bertemu kakaknya Ganteng waktu sama-sama jadi pasien di sebuah rumah sakit. Kena demam berdarah waktu itu.

Saya heran mendengar ceritanya karena sekitar tiga hari lalu dia bilang sudah mantap dengan perempuan calon dokter umum, gadis Minang, yatim piatu, yang sedang menyelesaikan tingkat akhirnya di Bandung. Si gadis ini sejak awal pacaran sudah bilang ingin praktek di kampungnya setelah lulus untuk membantu masyarakat sekitar.

Saya tahu sejak remaja memang dia ingin punya istri dokter karena prinsipnya anak-anaknya harus tumbuh di tangan ibu seorang dokter yang sangat mengerti kesehatan. Ganteng punya wajah yang memang ganteng, rumah mungil, mobil bagus dengan karir yang juga bagus. Saya juga tahu di rumah dia manja dan maunya serba dilayani termasuk soal ambil piring untuk makan. Pernah juga saya tanya bagaimana nanti punya istri dokter yang sibuk kalau untuk makan saja minta diambilkan piring? Waktu itu sih dia hanya senyum-senyum saja.

Nah, tentang gadis Minang calon dokter di Bandung itu, dia cerita bahwa dia sudah bilang pada sang gadis bahwa dia akan membiayai kuliah spesialis jika sang gadis berminat dan akan ikut tinggal di kampung. Mereka bahkan berencana menikah Maret tahun depan.

Kepada saya, pernah juga dia mengeluh mau kerja apa gue di kampungnya nanti? Saya bilang nah loe udah ngomong gitu ke dia udah dipikirin belom? Ganteng cuma diam. Lalu saya sarankan untuk shalat istikharah minta petunjuk Tuhan apakah memang dia yang terbaik. Menanggapi saran saya, Ganteng malah bilang buat apa shalat istikharah segala? Kan calonnya cuma satu, kecuali kalau ada dua baru gue minta bantuan Tuhan. Saya sih diam aja karena males berdebat dengan orang yang menjadikan Tuhan alternatif terakhir untuk didatangi, orang yang meminta pada Tuhan hanya jika sudah kepepet. Memangnya Tuhan tetangga sebelah rumah?

Kembali ke cerita si Ganteng di atas. Saya bilang "Kalau loe udah komit dengan seseorang sampai ngomong menikah segala, apa yang loe lakukan malam minggu itu namanya berkhianat". Ganteng beralasan sebelum ijab kabul dia bebas kenalan dengan banyak perempuan. Trus saya bilang "loe bisa bilang gitu karena loe ga di posisi dia, setia sama loe, eh ga taunya loe jalan sama orang lain. Harusnya loe jangan komit apa-apa dulu kalau masih mau kelayapan". Ganteng bilang "Kan dia ga tau gue jalan sama siapa. Kan dia di Bandung sementara gue di Jakarta". Saya bilang lagi "Loe tau ga kenapa bangkai gampang kecium baunya? Karena angin yang nyampein ke hidung semua orang. Semua yang busuk tuh pasti ada aja yang nyampein".

Dear Wikimuers, bener ga sih yang saya bilang bahwa apa yang dilakukan si Ganteng itu sama aja dengan berkhianat? Apa iya kalau belum akad nikah kita masih bisa belanja sana sini? Trus apa dong yang namanya setia?